Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TUBAN

Dari Padamkan Api hingga Dengarkan Curhat, Begini Cerita Unik Damkar Tuban

Dari Padamkan Api hingga Dengarkan Curhat, Begini Cerita Unik Damkar Tuban

TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Nomor telepon Damkar Tuban ternyata tak selalu berdering karena kebakaran. Kadang, ada warga yang meminta bantuan menagih utang. Ada pula yang sekadar curhat soal persoalan hidup.

Permintaan itu memang di luar tugas utama petugas pemadam kebakaran. Namun bagi personel Damkar Tuban, laporan-laporan semacam itu sudah cukup sering diterima dari masyarakat.

Di saat kasus kebakaran di Kabupaten Tuban masih tergolong tinggi, petugas Damkar bukan hanya sibuk memadamkan api. Mereka juga kerap menjadi tempat warga meminta pertolongan untuk hal-hal tak terduga.

Plt Kepala Satpol PP dan Damkar Tuban, Sutaji, mengatakan sejak Januari hingga Mei 2026 tercatat ada 22 kejadian kebakaran di Tuban. Jumlah itu hanya selisih satu kasus dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sebagian besar kebakaran, menurutnya, masih dipicu korsleting listrik. Kondisi instalasi kabel pada bangunan lama menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemukan.

“Ada banyak faktor, salah satunya korsleting listrik, karena bangunan yang sudah berumur 20 tahun lebih itu sambungan kabel perlu diperiksa,” ujar Sutaji.

Wilayah Tuban Kota dan Parengan menjadi daerah dengan kasus kebakaran tertinggi. Kebakaran paling banyak terjadi di kawasan permukiman dengan 11 kasus. Selain itu, ada lima kejadian di sektor usaha dan empat kebakaran kandang ternak.

Melihat angka tersebut, Damkar Tuban meminta masyarakat lebih memperhatikan langkah pencegahan. Salah satunya dengan menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Sutaji menyarankan setiap desa memiliki setidaknya tiga APAR agar penanganan awal bisa dilakukan sebelum api membesar.

“Fungsi APAR itu sangat penting. Jadi sembari menunggu tim Damkar datang, masyarakat bisa menggunakan APAR, karena APAR sebenarnya 10 kali lebih efektif dari air,” katanya.

Menurutnya, kebakaran sering kali membesar karena penanganan awal terlambat dilakukan. Padahal, api kecil bisa segera dikendalikan jika peralatan dasar tersedia.

“Kebakaran itu hitungannya detik. Jika di setiap desa atau kelurahan memiliki APAR, api bisa segera dipadamkan sebelum merembet menjadi besar. Kami harap pihak desa mulai menganggarkan ini sebagai upaya dini pencegahan,” imbuhnya.

Selain desa, pengelola tempat usaha juga diminta memastikan sistem proteksi kebakaran berfungsi dengan baik, mulai alarm, hidran, sprinkler hingga APAR.

Di sela tugas penanganan kebakaran itu, petugas Damkar Tuban juga menghadapi berbagai laporan unik dari masyarakat. Salah satu yang paling diingat Sutaji adalah permintaan membantu menagih utang oleh masyarakat.

“Kita banyak permintaan unik, salah satunya menagih hutang salah satu warga, ya kami tanggapi saja meskipun hanya koordinasi melalui pesan singkat,” ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, ada pula warga yang menghubungi Damkar hanya untuk bercerita. Mulai persoalan keluarga, masalah pekerjaan, hingga keluhan hidup sehari-hari. Petugas Damkar pun kerap mendengarkan keluhan tersebut layaknya teman curhat.

Tak jarang, Komunikasi berlangsung cukup lama karena warga merasa lebih nyaman bercerita kepada petugas yang merespons dengan santai dan terbuka. Kondisi itu membuat Damkar, secara tidak langsung, seperti menjadi tempat curhat gratis bagi sebagian masyarakat.

“Selain nagih hutang ada lagi yang curhat, ya kita juga dampingi, kita arahkan untuk mengalihkan ke hal positif,” tambahnya.

Bagi Sutaji, pelayanan pemerintah tak selalu soal pekerjaan utama di atas kertas. Selama masih bisa membantu masyarakat, laporan-laporan seperti itu tetap akan diterima dengan baik oleh petugas Damkar.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita