Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Fraksi PDIP DPRD Jatim: Korban Selamat KMP MFraksi PDIP DPRD Jatim Dorong Pembentukan Tim Trauma Healing Terpadu untuk Penyintas KMP Mutiara Sentosa II

Fraksi PDIP DPRD Jatim: Korban Selamat KMP MFraksi PDIP DPRD Jatim Dorong Pembentukan Tim Trauma Healing Terpadu untuk Penyintas KMP Mutiara Sentosa II

SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II yang terjadi di perairan Madura, memang sudah ditangani dengan baik hingga penumpang yang selamat juga sudah di evakuasi ke tempat yang aman dan baik. Namun trauma yang dialami oleh para penumpang belum tentu bisa dilupakan, bisa jadi ini akan melekat dan mengganggu emosional korban kebakaran kapal tersebut. Maka dibutuhkan langkah lebih agar kejadian itu tidak terus membekas, terutama mereka
kehilangan orang-orang tercinta.

Mempertikbangkan kondisi psikis itulah, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur meminta pemerintah menjadikan trauma healing sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan pascabencana.

Pemulihan psikologis dinilai sama pentingnya dengan pelayanan medis maupun bantuan logistik agar para korban benar-benar dapat bangkit dan kembali menjalani kehidupan seperti semula.

“Bayangkan seseorang yang harus melompat ke laut untuk menyelamatkan diri, menyaksikan kobaran api, bahkan kehilangan anggota keluarganya dalam hitungan menit. Pengalaman seperti itu tidak mudah dilupakan. Karena itu negara wajib memastikan mereka tidak berjuang sendirian menghadapi luka batin tersebut,” ujar anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Indriani Yulia Mariska, Selasa (4/8/2026).

Indriani menegaskan bahwa pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur hingga pemerintah kabupaten/kota harus hadir memberikan pendampingan psikologis secara menyeluruh kepada para korban.

“Korban berasal dari berbagai daerah. Karena itu sudah menjadi kewajiban pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota, untuk memberikan pelayanan terbaik kepada warganya masing-masing. Jangan sampai mereka selamat secara fisik, tetapi harus hidup dengan trauma yang berkepanjangan,” tegas politisi asal Sumenep ini.

Menurutnya, pemulihan psikologis harus dilakukan sejak dini. Semakin cepat korban mendapatkan pendampingan, semakin besar peluang mereka untuk kembali beraktivitas, bekerja, bersekolah, dan menjalani kehidupan secara normal tanpa terus dihantui rasa takut.

Politikus perempuan satu-satunya di Dapil Madura ini pun menjelaskan, pengalaman menghadapi kobaran api di atas kapal, berebut menyelamatkan diri, terapung di tengah laut hingga menyaksikan anggota keluarga menjadi korban merupakan pengalaman yang dapat memicu gangguan kesehatan mental, mulai dari Acute Stress Disorder (ASD), Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), kecemasan, hingga depresi apabila tidak ditangani secara tepat.

Karena itu, lanjut Indriani, Fraksi PDIP DPRD Jatim meminta pemerintah memprioritaskan layanan psikososial bagi para korban yang selamat dari insiden tersebut.

“Pendampingan psikologis juga dinilai penting diberikan kepada awak kapal, personel SAR, tenaga kesehatan, hingga relawan yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan. Mereka juga menghadapi tekanan emosional yang besar selama menjalankan tugas kemanusiaan,” ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, Fraksi PDIP DPRD Jatim kata anggota Komisi E ini, mendorong Pemprov Jawa Timur segera menghadirkan layanan Psychological First Aid (PFA) di seluruh posko pengungsian dan rumah sakit rujukan, sekaligus membentuk Tim Trauma Healing Terpadu yang melibatkan psikolog, psikiater, pekerja sosial, serta relawan untuk mendampingi para korban secara berkelanjutan.

Trauma healing, kata Indriani, tidak boleh berhenti hanya beberapa hari setelah musibah terjadi. Pemerintah perlu memastikan pendampingan dilakukan secara berkala selama beberapa bulan, terutama bagi anak-anak dan keluarga korban, agar dampak psikologis yang muncul tidak berkembang menjadi trauma berkepanjangan.

“Keberhasilan penanganan bencana bukan hanya diukur dari berapa banyak korban yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dari seberapa besar negara mampu mengembalikan semangat hidup mereka. Negara harus memastikan para penyintas tidak berjalan sendirian menghadapi luka batin yang mereka alami,” jelasnya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita