Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL PONOROGO

Roadshow di Ponorogo, Sutradara Piye To Kih? Ito Mavin Ungkap Kisah Cinta Beda Alam dan Agama

Roadshow di Ponorogo, Sutradara Piye To Kih? Ito Mavin Ungkap Kisah Cinta Beda Alam dan Agama

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Film drama komedi supernatural *Piye To Kih?* menyambangi Kabupaten Ponorogo melalui rangkaian roadshow promosi di bioskop XXI Ponorogo City Centre (PCC), Kamis (29/10/2026). Kehadiran film produksi Miracle Pictures dan Woko Channels ini terasa istimewa bagi sang sutradara, Ito Mavin, yang ternyata memiliki ikatan emosional dan budaya dengan Bumi Reog.

Ito Mavin mengaku memiliki hubungan tersendiri dengan Ponorogo. Ia lahir di Kecamatan Ngebel, meskipun telah lebih dari 22 tahun merantau dan membangun karier di luar daerah. Kedekatannya dengan budaya Jawa, termasuk bahasa dan tradisi, menjadi salah satu latar belakang yang membuat kunjungan promosi film tersebut terasa spesial.

Menariknya, perjalanan Ito mengenal Woko Channels juga sudah berlangsung sejak lama. Ia mengaku dahulu menjadi salah satu pengikut Woko Channels ketika konten kreator tersebut masih menggunakan telepon genggam untuk memproduksi konten.

Keterlibatan Ito dalam film Piye To Kih? sekaligus mempertemukan perjalanan profesionalnya dengan kedekatan budaya yang telah lama melekat dalam dirinya.

“Masih ada ikatan yang kuat dengan Ponorogo karena saya memang lahir di Ngebel. Walaupun sudah lebih dari 22 tahun merantau dan berkarier di luar, kedekatan dengan budaya Jawa, bahasa, dan tradisinya tetap menjadi bagian dari diri saya,” ungkap Ito Mavin saat ditemui dalam roadshow di Ponorogo.

Bukan Sekadar Film Komedi, Ada Pesan tentang Memantaskan Diri

Ito menjelaskan, Piye To Kih? bukan sekadar film yang mengandalkan humor maupun cerita supranatural untuk menghibur penonton. Ada pesan kehidupan yang ingin disampaikan melalui perjalanan para tokohnya, terutama mengenai pentingnya mengenali dan memperbaiki diri sebelum menginginkan sesuatu.

Menurut Ito, seseorang perlu memahami dirinya sendiri dan berusaha memantaskan diri sebelum berharap mendapatkan apa yang diinginkan.

“Film ini sebenarnya berbicara tentang proses seseorang untuk memantaskan diri. Sebelum kita menginginkan sesuatu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali diri sendiri. Setelah itu, kita harus berusaha memantaskan diri,” jelasnya.

Pesan tersebut dikemas melalui genre drama komedi supernatural. Perpaduan ketiga unsur itu dipilih sebagai pendekatan untuk menyampaikan persoalan kehidupan dengan cara yang ringan, menghibur, tetapi tetap menyentuh sisi emosional penonton.

Film ini mengangkat sejumlah nilai kehidupan, mulai dari keluarga, persahabatan, romansa, hingga perjuangan seseorang menghadapi kenyataan. Salah satu premis yang menjadi daya tarik cerita adalah hubungan cinta yang terhalang perbedaan alam sekaligus perbedaan agama.

Bagi Ito, persoalan tersebut menjadi bagian dari perjalanan cerita yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga mengajak penonton memikirkan makna cinta, penerimaan, dan keikhlasan.

Kisah Mukidi dan Sukma, Cinta yang Terhalang Dua Dunia

Cerita Piye To Kih? berpusat pada Mukidi, karakter yang diperankan Heri Chandra. Kehidupan Mukidi berubah setelah rencana pernikahannya berantakan. Dalam situasi tersebut, ia justru bertemu Sukma, perempuan misterius dari alam berbeda yang diperankan Dara Sarasvati.

Pertemuan keduanya berkembang menjadi hubungan yang tidak biasa. Perbedaan dunia yang mereka tempati menghadirkan berbagai persoalan, sekaligus situasi komedi yang menjadi warna tersendiri dalam film berdurasi 108 menit tersebut.

Di balik hubungan Mukidi dan Sukma, penonton diajak mengikuti perjalanan seseorang dalam memahami perasaan, menghadapi pilihan, serta menerima kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita