Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Pekerja Sosial Dalam Kontestasi Politik

Oleh: Dadang Setiawan, S. Sos.

Penulis adalah Pekerja Sosial, Ketua Yayasan Gerak Cintai Anak Indonesia

Dalam perspektif seorang social worker bernama Barbara Ann Mikulski, politik adalah sebuah pekerjaan sosial dengan kekuasaan. Artinya, Barbara memandang bahwa politik dan pekerjaan sosial bukan dua hal yang dikotomis. Politik bisa dipersepsikan sebagai pekerjaan sosial dalam skala makro. Bekal literasi sosial sebagai social worker kemudian dibawa politikus perempuan itu saat menjadi senator di Amerika Serikat.

Cara Barbara dalam memaknai politik tersebut bisa dijadikan inspirasi oleh semua peserta kontestasi politik 2024. Dengan perspektif bahwa politik termasuk bagian dari pekerjaan sosial, kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai kesempatan besar untuk melakukan penyalahgunaan (corrupt) sebagaimana teori Lord Acton.

Memang tidak berarti lingkaran kekuasaan politis harus didominasi oleh mereka yang memiliki latar belakang sebagai pekerja sosial. Namun setidaknya calon elit kekuasaan dalam sistem demokrasi perlu membekali diri dengan literasi sosial yang menjadi modal utama para pekerja sosial saat memasuki arena politik.

James Arthur dan Jon Davison mengemukakan pendapatnya bahwa, literasi sosial melibatkan proses belajar untuk memahami dan menafsirkan berbagai permasalahan sosial yang harus dihadapi dalam kehidupan. Proses belajar tersebut bukan hanya diperoleh dengan cara membaca fakta dan data yang terungkap secara tekstual, melainkan juga melalui persentuhan langsung ke masyarakat dalam durasi yang tidak singkat.

Kemampuan membaca permasalahan di masyarakat sangat dibutuhkan oleh pemegang kekuasaan agar diskusi tentang demokrasi tidak hanya berbicara soal proses pemilihan. Mengacu pada pendapat Abraham Lincoln, demokrasi dapat diartikan sebagai suatu pemerintahan yang berdasar atas legitimasi dari rakyat, oleh rakyat dan seharusnya berorientasi pada kebaikan rakyat.

Sebagai sebuah sistem hasil pemikiran manusia, demokrasi bukan tanpa kritik. Salah satu kritik paling menarik datang dari Plato. Menurut pendapatnya, demokrasi tidak menjamin lahirnya pemimpin dengan kualitas terbaik untuk mengatur urusan publik.

Plato bahkan menyebut demokrasi sebagai sistem irasional karena rakyat yang tidak sama tingkat keahliannya memiliki kebebasan penuh untuk melahirkan pemimpin bukan atas dasar kapabilitas, melainkan semata-mata karena kehendak suara paling keras atau paling dominan.

Secara sederhana Plato menggunakan metafora kapal yang berisikan sekelompok orang. Di antara sekian banyak orang itu, hanya satu yang memiliki keahlian di bidang navigasi kapal sedangkan yang lain buta navigasi tetapi merasa mampu mengemudi kapal. Akhirnya atas nama suara terbanyak, satu-satunya orang yang ahli navigasi tadi tidak terpilih karena tidak mendapat dukungan.

Kritik Plato terhadap demokrasi sesungguhnya adalah impact dari lemahnya literasi sosial para pemegang kekuasaan. Akibatnya demokrasi terhenti hanya sampai proses pemilihan sedangkan produk legislasi dan kebijakan eksekutif cenderung oligarkhis.

Bekal popularitas mungkin sudah cukup membuat seorang calon memiliki elektabilitas untuk menuju ke kursi kekuasaan. Namun tanpa literasi sosial yang kuat, calon pemegang kekuasaan akan tergagap-gagap saat mempresentasikan gagasannya ke ruang publik. Setelah memegang kekuasaan, orang yang lemah literasi sosialnya juga akan kesulitan saat meracang public policy yang solutif terhadap permasalahan sosial di masyarakat.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita