LaNyalla Nilai Pandemi Momentum untuk Wujudkan Kemandirian Kesehatan

- Editor

Kamis, 12 Agustus 2021 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPD RI saat mengunjungi PP Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto (KH. Husni Zuhri) Lumajang, Jawa Timur pada, 18 Februari 2021, yang lalu

Ketua DPD RI saat mengunjungi PP Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto (KH. Husni Zuhri) Lumajang, Jawa Timur pada, 18 Februari 2021, yang lalu

Ketua DPD RI saat mengunjungi PP Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto (KH. Husni Zuhri) Lumajang, Jawa Timur pada, 18 Februari 2021, yang lalu

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menilai pandemi Covid-19 merupakan momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kemandirian kesehatan. Termasuk juga mengurangi ketergantungan obat dan bahan obat dari luar negeri.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, pernah menyampaikan sulitnya menangani Covid-19 karena Indonesia masih impor obat dan bahan baku obat. Yakni sekitar 97% obat-obatan masih impor dan hanya 3% obat-obatan yang diproduksi dalam negeri.

Padahal dari 1.809 macam obat yang ada di e-katalog, hanya 56 item obat yang belum diproduksi di dalam negeri. Kemudian dari 10 bahan baku obat yang terbesar baru dua yang ada di Indonesia, lainnya masih impor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketika menjadi keynote speaker webinar yang diadakan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah Indonesia (DEMFASNA), beberapa waktu lalu, saya katakan hikmah terbesar dari pandemi Covid-19 bagi bangsa Indonesia adalah terungkapnya persoalan-persoalan fundamental di banyak sektor yang selama ini belum terpikirkan. Di sektor kesehatan, kita lihat sangat rapuh. Fasilitas kesehatan nyaris kolaps, kemudian kurang tersedianya oksigen dan obat-obatan,” ujar LaNyalla di sela masa reses di Jawa Timur, Kamis (12/8/2021).

Baca Juga :  Sebanyak 50 Hektar Lahan Terbakar di Gunung Bromo

Terkait hal ketergantungan obat dari luar negeri, LaNyalla menyarankan agar Indonesia mulai memanfaatkan biodiversity atau keanekaragaman hayati yang ada sebagai obat siap pakai maupun bahan baku obat-obatan.

“Kita mempunyai biodiversity yang sangat banyak. Dari Sabang sampai Merauke, melimpah bahan yang bisa dikembangkan dalam bentuk obat-obat siap pakai maupun sebagai bahan baku,” katanya lagi.

LaNyalla mencontohkan, bahan baku untuk obat paracetamol yang sampai saat ini masih impor. Menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah memiliki bahan bakunya, yaitu zat fenol sisa produksi bahan bakar minyak yang dibuat oleh PT Bio Farma. Sayangnya pemerintah Indonesia belum menggarap potensi itu dengan baik.

“Selama ini kita terlalu asyik menggunakan obat-obat dan produk-produk sudah jadi. Kondisi pandemi membuat semuanya menjadi sadar bahwa banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan, yang sebenarnya bisa berperan besar dalam mendukung penanganan virus,” ujar dia.

Baca Juga :  Gebyar Coklit Serentak Satu Juta Pemilih, KPU Jatim Raih Rekor MURI

Untuk itu, LaNyalla mendorong lembaga penelitian dan perguruan tinggi terus melakukan riset dan bekerja sama dengan perusahaan farmasi dalam produksi. Artinya hasil riset tidak hanya sebatas publikasi ilmiah namun juga ke proses hilirisasi.

“Memang budget penelitian dan pengembangan terkait obat masih rendah. Hanya sekitar 0,2 persen total GDP (Gross Domestic Product). Makanya kita minta anggaran penelitian kesehatan ini ditambah,” terang Senator asal Jawa Timur itu.

Ditambahkan LaNyalla, kolaborasi yang kompak antara kampus dan industri menjadi kekuatan untuk mencapai kesehatan yang mandiri. Minimal ketergantungan terhadap produk-produk asing berkurang.

“Pandemi merupakan momen tepat untuk melakukan transformasi kesehatan, reformasi sektor farmasi dan resiliensi sistem kesehatan. Pentingnya ketersediaan obat-obatan esensial untuk rakyat kecil, kemudian masalah sistemik yang harus diperbaiki dalam sistem kesehatan seperti kapasitas RS, juga target cakupan BPJS yang perlu ditambah,” jelasnya.(*)

Berita Terkait

Gebyar Coklit Serentak Satu Juta Pemilih, KPU Jatim Raih Rekor MURI
Kakek di Ponorogo Meregang Nyawa Setelah Dibacok, Polisi Amankan Terduga Pelaku
Bersamaan dengan Grebeg Suro, Jamaah Haji Ponorogo Bakal Turun di Kantor Kemenag Setelah Sampai, Penjemput Wajib Berstiker
Bebaskan Anak Berekspresi, Pemkot Kediri Gelar Serangkaian Lomba dalam Peringatan HAN 2024
Dialog Bersama Pegiat Literasi Kota Kediri, Pj Wali Kota Kediri Zanariah Ajak Kolaborasi Tingkatkan Gemar Baca Masyarakat
Warga di Ponorogo Meregang Nyawa Setelah Dibacok Adiknya
Tingkatkan Kehati- Hatian, Jangan Sembarangan Gunakan DD – ADD, Anda Akan Berurusan dengan KPK
Satnarkoba Polres Pacitan Musnahkan Barang Bukti Narkoba Ganja dan Sabu

Berita Terkait

Selasa, 25 Juni 2024 - 00:30 WIB

Gebyar Coklit Serentak Satu Juta Pemilih, KPU Jatim Raih Rekor MURI

Senin, 24 Juni 2024 - 22:12 WIB

Kakek di Ponorogo Meregang Nyawa Setelah Dibacok, Polisi Amankan Terduga Pelaku

Senin, 24 Juni 2024 - 21:07 WIB

Bersamaan dengan Grebeg Suro, Jamaah Haji Ponorogo Bakal Turun di Kantor Kemenag Setelah Sampai, Penjemput Wajib Berstiker

Senin, 24 Juni 2024 - 18:45 WIB

Bebaskan Anak Berekspresi, Pemkot Kediri Gelar Serangkaian Lomba dalam Peringatan HAN 2024

Senin, 24 Juni 2024 - 18:22 WIB

Warga di Ponorogo Meregang Nyawa Setelah Dibacok Adiknya

Senin, 24 Juni 2024 - 17:54 WIB

Tingkatkan Kehati- Hatian, Jangan Sembarangan Gunakan DD – ADD, Anda Akan Berurusan dengan KPK

Senin, 24 Juni 2024 - 17:36 WIB

Satnarkoba Polres Pacitan Musnahkan Barang Bukti Narkoba Ganja dan Sabu

Senin, 24 Juni 2024 - 15:03 WIB

Peringati Ke 78 Hari Bhayangkara, Polres Gresik Gelar Tabur Bunga di TMP Kusuma Bangsa Sunan Giri

KANAL TERKINI