Sidang Kasus Utang Piutang Berlanjut, PH Hengky Hadi Saputra Sebut Sebenarnya Kasus Perdata Bukan Pidana

- Editor

Senin, 4 Oktober 2021 - 19:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Dua orang saksi dihadirkan dalam persidangan kasus utang piutang macet membayar tagihan dengan terdakwa Hengky Hadi Saputra, sekaligus pemilik CV Cakra Mandiri yang berlangsung di ruang Kartika II Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (4/10/2021).

Dua saksi itu adalah Okky Cahyo Sungkono (pelapor) dan Wardoyo. Pelapor sendiri merupakan pemilik CV Jaya Agung dan terdakwa adalah pelanggan di CV Jaya Agung sejak 2018. Hanya saja, transaksi pembelian yang dilakukan terdakwa melalui sales marketing perusahaan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya tidak kenal awalnya. Tapi, karena ada tunggakan dan belum dibayar, sehingga saya bertemu langsung dengan terdakwa. Saat itu 2020. Saat itu baru kenal dengan terdakwa. Sebelumnya, terdakwa hanya berurusan dengan karyawan saya,” kata Okky dalam persidangan, Senin (4/10).

Barang yang belum dibayar oleh terdakwa sekitar Rp 204 juta. Hanya saja, Okky mengakui kalau beberapa sudah dibayar oleh terdakwa. Sehingga, menyisahkan Rp 162 juta. Beberapa telah dibayar sebelum Okky melaporkan Hengky ke polisi.

Namun, ada juga yang dibayar setelah terdakwa dilaporkan ke polisi. “Sudah ada yang dibayarkan. Jadi, sebenarnya ada dua BAP (berita acara penyelidikan). Sempat juga saya dipertemukan oleh terdakwa. Polisi yang memfasilitasi pertemuan tersebut,” katanya lagi.

Baca Juga :  Tes Parameter Jadi Acuan Kesiapan Atlet Jelang Porkab dan BK Porpov

Malah, saksi lainnya yaitu Wardoyo mengaku kalau sebenarnya piutang terdakwa hanya Rp 48 juta. Ada empat bilyet giro (BG) yang diberikan terdakwa. Masing-masing bertuliskan Rp 10 juta. Tapi, tidak semua BG yang diberikan itu dapat dicairkan.

“Hanya tiga yang bisa dicairkan. Satunya tidak bisa dicairkan karena tidak memiliki dana. Namun, terdakwa sempat menyicil sisanya. Semuanya diberikan secara transfer. Beberapa kali diberikan. Sehingga totalnya Rp 18 juta,” ungkapnya.

Usai persidangan, penasihat hukum terdakwa, Viktor Sinaga menjelaskan kalau sebenarnya piutang terdakwa hanya kepada Okky. Kalau Wardoyo semuanya telah lunas. “Buktinya tadi saya sudah perlihatkan ke majelis hakim. Bukti transfernya ada semua,” kata Viktor sambil menunjukkan bukti transfernya.

Bahkan, ia menjelaskan kalau terdakwa sejak 2020 lalu, wajib lapor ke Polrestabes. Sehingga, tidak mungkin saksi Okky kesusahan untuk mencari atau berkomunikasi dengan terdakwa. “Saat itu, status terdakwa masih tahanan kota. Jadi wajib lapor. Tidak mungkin susah dihubungi,” tambahnya lagi.

Baca Juga :  Ikhtiar Ciptakan SDM Unggul, Bappenas RI Tingkatkan Peran Pendidikan Keagamaan Islam

Ia juga berkesimpulan kalau kasus ini sebenarnya terkesan dipaksakan. Sebab, terdakwa masih melakukan penyicilan sampai saat ini. Bahkan, sebelum terdakwa dilaporkan juga, Hengky masih terus berusaha menyelesaikan piutang dari barang yang telah ia beli dari saksi pelapor.

“Tadi saksi bilang kalau terdakwa tidak memiliki etikad baik. Tapi kenyataannya, terdakwa masih melakukan penyicilan. Saya kurang tahu pastinya berapa piutang terdakwa saat ini. Tapi, yang pasti tidak sesuai dengan angka yang disebutkan saksi tadi,” tegasnya.

Sementara itu, ibu terdakwa Go Linda Suanggraini saat ditemui di Polrestabes Surabaya mengaku kalau kasus yang menimpa anaknya sebenarnya kasus perdata. Bukan pidana. Karena tidak ada unsur pidana didalamnya.

“Saya tidak ngerti hukum mas. Tapi, saya sempat bertanya kepada beberapa pengacara yang tentu sangat paham dengan hukum. Mereka menjelaskan kasus ini perdata. Anak saya, tidak pernah berusaha melakukan penipuan. Ia bayar kok. Saya tahu banget mas,” katanya sambil berjalan. Ady

Berita Terkait

Masuki Tahap Kedua Penyaluran Belanja Hibah Pelaku Usaha Mikro, Dinkop UMTK Gelar Sosialisasi
Gandeng Nusamed, Bank Jatim Perkuat Layanan Perbankan di Rumah Sakit
Menimbang Esensi Toleransi dalam Larangan Salam Lintas Agama
Peternak di Ponorogo Ini Tak Menyangka Dua Sapinya Dibeli Presiden Indonesia untuk Qurban
Gebrakan Dewan Kesenian Ponorogo, Bentuk Ekosistem Budaya Berbasis Research
Ajak Keliling Ratusan Anak Yatim, Mbak Cicha: Supaya Mereka Termotivasi Kejar Cita-Cita
Tes Parameter Jadi Acuan Kesiapan Atlet Jelang Porkab dan BK Porpov
Gugatan PT Best Chrusher Sentralindojaya Ditolak PN Surabaya

Berita Terkait

Minggu, 16 Juni 2024 - 09:55 WIB

Masuki Tahap Kedua Penyaluran Belanja Hibah Pelaku Usaha Mikro, Dinkop UMTK Gelar Sosialisasi

Minggu, 16 Juni 2024 - 09:48 WIB

Gandeng Nusamed, Bank Jatim Perkuat Layanan Perbankan di Rumah Sakit

Minggu, 16 Juni 2024 - 05:26 WIB

Menimbang Esensi Toleransi dalam Larangan Salam Lintas Agama

Sabtu, 15 Juni 2024 - 22:01 WIB

Gebrakan Dewan Kesenian Ponorogo, Bentuk Ekosistem Budaya Berbasis Research

Sabtu, 15 Juni 2024 - 21:00 WIB

Ajak Keliling Ratusan Anak Yatim, Mbak Cicha: Supaya Mereka Termotivasi Kejar Cita-Cita

Sabtu, 15 Juni 2024 - 20:34 WIB

Tes Parameter Jadi Acuan Kesiapan Atlet Jelang Porkab dan BK Porpov

Sabtu, 15 Juni 2024 - 13:20 WIB

Gugatan PT Best Chrusher Sentralindojaya Ditolak PN Surabaya

Sabtu, 15 Juni 2024 - 07:45 WIB

Ikhtiar Ciptakan SDM Unggul, Bappenas RI Tingkatkan Peran Pendidikan Keagamaan Islam

KANAL TERKINI

KANAL JATIM

Menimbang Esensi Toleransi dalam Larangan Salam Lintas Agama

Minggu, 16 Jun 2024 - 05:26 WIB

KANAL HEALTH

Peneliti UNAIR Raih Penghargaan Kekayaan Intelektual oleh WIPO

Sabtu, 15 Jun 2024 - 23:01 WIB