Tapi sayang sekali, kalau orang Tidore saja tidak memahami bahasa Tidore maka repotnya disitu, saya kasih contoh kata Jin itu kan bahasa Arab, Malayu Indonesia juga bilang Jin, kalau orang Tidore bilang Jin itu kan aneh, Jin dalam bahasa Tidore itu orang bilang Papa se Tete, nah dari situ saja kita bisa lihat perbedaan memahaminya.
Jadi torang (kita) disini madafolo zikrullah, madarifa papa se tete, semua bermohon kepada Tuhan yang maha esa, tapi sandaran kita sebelum ummat manusia ini, jin lebih dulu ada, termaktub dalam ayat Al-Qur’an,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
“Alhamdulillah, melalui perpustakaan nasional dan dimediasi oleh perpustakaan daerah ini, sehingga perlahan-lahan, walaupun belum seluruh, tapi dari keluarga saya ini sendiri atau yang dikenal dengan Al Fahruk atau Jawa Turu sudah mulai mengekspose, naskah-naskah yang saya sebutkan tadi, juga naskah tassawuf, tarekat,” ungkapnya.
“Saya bersyukur dan sangat berterima kasih kepada perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah, karena mereka berusaha menginventarisir dan melestarikan naskah-naska kuno, yang sampulnya rusak diperbaiki menjadi bagus kembali,” tutupnya. (Iswan_KanalIndonesia.com)
