Setiap pribadi memiliki pengalaman dan penghayatan iman yang bersifat esoterik dan bersifat sangat pribadi. Dengan kata lain, pintu gerbang terakhir mendekati Allah adalah hati (qalbu) masing-masing orang yang beriman.
Demikianlah, memahami pemikiran Denny dan siapa pun yang lain perihal wawasan dan penghayatan imannya sesungguhnya tidak mudah.
Pertama, wawasan dan penghayatan iman seseorang itu tidak statis berhenti di tempat. Kedua, uraian diskursif-teoritis tentang fenomena dan realitas sosial keagamaan tidak serta merta identik menggambarkan keyakinan dan penghayatan iman seseorang.
Buku tentang pemikiran Denny ini telah membuka wawasan kita mengenai potret dan lanskap keberagamaan masyarakat modern dengan disertai pertanyaan sangat kritis, bahkan radikal.
Mengapa masyarakat yang begitu antusias membela praktek ritual dan simbol-simbol agama kehidupan sosialnya tidak lebih makmur dan lebih sejahtera dibanding masyarakat modern-sekuler yang tingkat ilmu dan ekonominya lebih maju dan mapan?
Mengapa masyarakat sekuler lebih peduli menjaga lingkungan hidup yang sehat dibanding umat beragama yang militan? Seperti apa kehidupan beragama di masa depan?
Pertanyaan ini mungkin akan dipandang sebagai pertanyaan subversif oleh umat beragama di Indonesia. Namun akan lebih bijak jika pertanyaan yang bernada gugatan itu diposisikan sebagai representasi pertanyaan zaman terhadap eksistensi dan fungsi agama agar umat beragama melakukan refleksi dan kritik diri apakah yang salah dalam memahami dan mempratekkan agamanya.
