Agama Sebagai Realitas Kultural
Dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya, sebagai seorang ilmuwan dan peneliti Denny mengkaji agama secara empiris-induktif, berangkat dari pengalaman real manusia berdasarkan data empiris-kuantitatif.
Mengingat subjek yang beragama adalah manusia, maka keyakinan dan pengalaman beragama serta implikasinya bisa diteliti sepanjang masih dalam lanskap kemanusiaan.
Kalaupun agama berbicara aspek metafisik yang tidak terjangkau kajian ilmiah empiris, misalnya saja surga-neraka, tetapi subjek yang mempercayai dan menerima doktrin agama tersebut tetaplah manusia, sehingga semuanya bisa didialogkan dan dikaji menurut perspektif kemanusiaan.
Jadi, fokus Denny adalah manusia yang beragama, bukannya manusia untuk agama. Ketika manusia sebagai individu yang beragama melebur dan membentuk jejaring sosial maka muncullah masyarakat beragama.
Berangkat dari “aku”, lalu muncul “kami” dan “kita” yang pada urutannya melahirkan masyarakat global. Dalam universalitas dan globalitas itu dapat dibedakan ke dalam kelompok-kelompok etnis, suku, dan bangsa yang masing-masing memiliki bahasa dan agama yang beraneka ragam.
Keragaman ini merupakan desain Tuhan dan merupakan realitas sosial-historis yang tak terbantahkan dan tidak mungkin dilebur untuk diseragamkan.
