Papua Dibingkai Melanesia: Marape “Joko Widodo Asian Leader, Me Pasific Leader”.
Mungkin dalam surat kabar Indonesia tidak muncul namun jika baca media berbahasa Inggris sebenarnya kata-kata Perdana Menteri Marape adalah batas demarkasi secara tegas tentang posisi Papua sebagai rumpun Melanesia dan Indonesia (minus Papua) sebagai Asia.
Namun sikap politik cukup dilematis bagi Australia dan PNG saat ini, sebagai sebuah negara modern dan terdepan di kawasan Pasifik Selatan. Mereka berdiplomasi untuk mempertahankan keharmonisan hubungan dengan Indonesia.
Di samping memperoleh keuntungan bagi negara dan menjaga stabilitas kawasan, suara kedua negara inipun berpengaruh dan mencerminkan representasi kawasan Pasifik Selatan baik di forum PBB maupun fora internasional lainnya. Tetapi pertimbangan sosial kultur juga amat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan baik di Departemen Luar Negeri (eksternal security) maupun kebijakan dalam negeri termasuk soal ketertibaan negara (internal order).
Bagi Pemerintah PNG, mereka sadar bahwa, mereka adalah orang Melanesia yang terdiri dari Kep, Bismark, Salomon, Santa Cruz, New Hebriden, Fiji, Luasiade dan New Carolina karena itu dapat disebut juga “Kawasan Air” (Aquatic Zone) dan orang Melanesid yang hidup di Pulau Papua dalam kapasitasnya sebagai penduduk terbanyak dan pulau terbesar di antara kepulauan Melanesia.
Mereka adalah sebagai kesatuan individu yang memiliki rasa saling atas dasar ikatan budaya. biasanya kombinasi agama, bahasa, ras, adat istiadat dan suatu perasaan demi nenek moyang yang sama.
Kesamaan itu diakui pula oleh seorang Teolog PNGX Simeon Samunu bahwa, cara-cara hidup tradisional masyarakat Melanesia berkisar sekitar dunia roh, kehidupan sosial, emosi, pendidikan, politik, dan religi didasarkan atas sikap serta perasaan dan kepercayaannya terhadap roh-roh, di dalam tradisi ini membentuk atau mempengaruhi dan mengendalikan arah tingkah laku masyarakat. (Sprits in Melanesia and Sprits in Cristianity, Giay, 1996).
Pertalian etnis Papua-Melanesia antara orang Papua Barat sebagai Melanesia nampak dalam ungkapan-ungkapan tertentu, misalnya rakyat PNG sering menyapa kepada orang Papua dengan sebutan Wantok, sebuah sapaan yang diberikan oleh orang PNG kepada orang yang dianggap saudara terdekatnya.
Ada istilah lain di kawasan itu yang menyatukan mereka, misalnya Vaka i Taukei yang berarti “cara hidup orang Fiji”, kalau di Samoa disebut Fa’a Samoa, artinya “dunia orang Samoa”. Istilah-istilah ini menunjukan sikap komunal dan kebersamaan mereka yang disebut “The Melanesian Way” atau “Pasific Way”. Di PNG, perjuangan OPM ini mendapat simpati karena beberapa hal:
Pertama, ada ikatan kebersamaan etnis yang sangat kuat sebagai orang Melanesid. Kedua di PNG terdapat ribuan orang yang sudah terlebih dahulu lari dan menjadi warga negara PNG serta menduduki posisi strategis di pemerintahan pusat Port Moresby sehingga mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah demi kepentingan tanah leluhur mereka
Ketiga, pihak oposisi di parlemen PNG yang dulu tahun 1980-an dimotori oleh Iambkey Okuk dan Ted Diro (mantan Panglima AB PNG) memberikan tekanan dengan berbagai tuduhan kepada para penguasa untuk menarik simpati dan suara dari para masyarakat di kawasan perbatasan pada pemilihan umum, misalnya yang dilakukan oleh Jhon Tek Wie (Gubernur Sandaun Province) yang juga anggota parlemen PNG. Demikian pada saat ini Gubernur Metropolitan Port Moresby ikut memberi dukungan atas perjuangan Papua Merdeka.
