Strategi pengelolaan alat kesehatan di rumah sakit memang memerlukan pendekatan holistik yang mencakup berbagai aspek operasional. Menurut Michael Porter, pakar dalam strategi bisnis, konsep “Value Chain” atau rantai nilai bisa diadaptasi dalam konteks ini. Porter menegaskan bahwa setiap elemen dalam operasi organisasi dapat ditambahkan nilainya untuk menghasilkan keunggulan kompetitif.
Mengadaptasi konsep ini ke rumah sakit, kita dapat memandang setiap alat kesehatan sebagai satu elemen dalam rantai nilai pelayanan kesehatan. Mulai dari pemilihan alat, proses pembelian, pemasangan, pelatihan SDM, pemeliharaan rutin, hingga evaluasi kinerja alat, semuanya harus dilakukan dengan strategi yang jelas untuk menambah nilai kepada pasien, yaitu kualitas pelayanan medis yang optimal.
Dalam konteks pemeliharaan alat kesehatan, konsep Total Quality Management (TQM) dari Edward Deming dapat diaplikasikan. Deming menekankan pentingnya siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dalam proses perbaikan berkelanjutan. Dalam hal ini, rumah sakit perlu merencanakan (Plan) strategi pemeliharaan, melaksanakannya (Do), memeriksa hasil dan efektivitasnya (Check), serta melakukan perbaikan atau penyesuaian (Act) berdasarkan evaluasi tersebut. Dengan pendekatan ini, rumah sakit tidak hanya memastikan alat kesehatan berfungsi dengan baik, tetapi juga terus menerus memperbaiki proses pemeliharaan alat tersebut sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasien.
Alokasi dana untuk pemeliharaan alat kesehatan kerap menjadi dilema dalam pengelolaan keuangan rumah sakit, seperti yang disoroti oleh Veni (2020). Biaya pemeliharaan seringkali dikesampingkan demi kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak. Dalam perspektif teori manajemen aset oleh Drucker (1999), aset tidak hanya sekedar barang milik perusahaan, namun juga refleksi dari kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan sumber dayanya. Alat kesehatan, sebagai salah satu aset kritikal, bukan hanya sekedar investasi finansial, namun juga investasi terhadap kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.
Sebagai tambahan, dalam kerangka pemikiran yang lebih kontemporer dan jarang diterapkan dalam konteks rumah sakit, alat kesehatan dapat dilihat sebagai entitas yang memiliki “umur” – sebuah konsep yang sering diterapkan dalam bidang ekologi dan biologi. Seperti organisme hidup, alat kesehatan memiliki masa produktif dan masa di mana fungsi dan performanya mulai menurun. Oleh karena itu, pemeliharaan bukan hanya sekedar menjaga agar alat tetap berfungsi, namun juga untuk memperpanjang “umur produktif” dari alat tersebut. Dalam hal ini, pemeliharaan alat kesehatan sejatinya adalah upaya memaksimalkan investasi, dan seyogianya menjadi prioritas dalam alokasi anggaran.
IV. Peran dan Fungsi Surveior
Dalam konteks manajemen rumah sakit, surveior memegang peranan krusial sebagai penjembatan antara standar pelayanan dan realisasi di lapangan. Seperti yang diungkap oleh Drucker (1973) dalam karyanya, “Manajemen adalah seni membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.” Surveior memastikan bahwa rumah sakit tidak hanya memiliki visi, namun juga menerapkan visi tersebut dalam praktik operasional sehari-hari. Penilaian terhadap komitmen manajemen dalam pemeliharaan alat kesehatan bukanlah tugas yang ringan; hal ini membutuhkan analisis mendalam terhadap berbagai dokumen – mulai dari perencanaan, penyusunan standar pelaksanaan, hingga daftar inventaris dan pemeliharaan alat.
