“Saya itu awalnya berangkat dari seni rupa. Sejak TK sudah mengenal seni rupa baru ketika umur 10 keduanya antara seni rupa dan budaya berjalan bersamaan sampai akhirnya saya saat itu bisa dibilang salah satu orang yang mengembangkan akrobatik salto di tarian bujang ganong, serta menambahkan sedikit perubahan pada topeng bujang ganong karena dulu topeng bujang ganong itu rambutnya baunya sangat menyengat. Setelah adanya pembaruan ini, topeng bujang ganong perlahan memiliki nilai jual yang tinggi,”ungkapnya.
Perjalanan Wisnu dalam pencarian jatidiri dalam bidang seni dimulai ketika lulus SMA dan memutuskan untuk hijrah ke Surabaya.
“Karena dari kecil sudah kenal dengan seni, setelah lulus SMA saya memiliki keinginan antara kuliah di seni rupa atau di tari. Akhirnya pada tahun 2003 saya hijrah ke Surabaya dan takdir mempertemukan dengan koreografer bernama Heri Lentho yang merupakan penggiat seni budaya di Surabaya. Setelah bertemu dengannya, akhirnya menambah pengetahuan bahwa segala apapun yang kita rasakan ini bisa diungkapkan dengan tarian bahkan mengkritik pemerintah pun bisa disampaikan menggunakan tarian. Setelah bertemu dengan beliau, saya pada tahun 2004 memilih untuk kuliah di ISI Surakarta jurusan koreografi,”tambahnya.
Setelah menjalani perkuliahan, dia tidak lantas puas dengan pilihan jurusanya.

