“Dahulu, sentimen Reog Ponorogo antara Indonesia dan Malaysia sempat panas. Untuk menyudahi itu, kita harus sevisi bahwa reog bukan hanya milik orang Ponorogo saja tapi milik seluruh masyarakat yang ada di dunia. akhirnya kita sepakat yang di Malaysia sana membuat sebuah festival Barong antara bangsa yang di mana di dalam festival itu memperebutkan piala Bupati Ponorogo Indonesia, tak ketinggalan dewan kesenian juga akan memberikan penghargaan dan kebetulan saya adalah creative consultantnya. Bahkan di bulan depan nanti saya dijadwalkan untuk mengisi workshop kebudayaan terhadap diaspora Indonesia yang ada di Australia,”ungkapnya.
Ternyata jika diruntut dari keturunan, darah seni memang mengalir ditubuh seorang Wisnu, hal itu dibuktikan dengan kakeknya yang merupakan pemilik tanah tempat berdirinya monumen bantarangin.
“Kakek saya kebetulan yang memiliki tanah yang sekarang sebagai monumen bantarangin itu namanya sabuk janur yang saya pakai sebagai bendera kebudayaan saya. Setelah saya tanya tentang artinya, Kakek saya mengatakan makna tersiratnya ‘Sabuk’ adalah tali pengikat, ‘Ja’ itu artinya jagat dan ‘Nur’ itu artinya cahaya,”
Kebetulan, Wisnu didapuk juga sebagai ketua dewan kesenian Ponorogo periode 2024-2029, dia bertekad untuk mengenal budaya Ponorogo ke seluruh dunia.

