PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Kemarau panjang membuat debit air Waduk Bendo Ponorogo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, terus menyusut. Lahan yang sebelumnya berada di bawah genangan kini muncul ke permukaan dan dimanfaatkan warga untuk menanam jagung, kacang tanah hingga sayuran.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata dampak musim kemarau terhadap kawasan Waduk Bendo. Air di bagian hulu waduk dilaporkan menyusut selama sekitar empat bulan, mengubah aktivitas masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari kawasan perairan tersebut.
Bagi warga, menyusutnya Waduk Bendo tidak hanya menghadirkan persoalan, tetapi juga membuka peluang baru. Dasar waduk yang mengering dimanfaatkan sebagai lahan pertanian musiman agar tidak terbengkalai.
Salah seorang warga Desa Ngadirojo, Tulus, mengatakan warga memilih menggarap lahan yang muncul karena sayang jika dibiarkan kosong.
“Karena kering, eman kalau sampai lahan itu kosong. Kalau ditanami, rakyat semua bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” kata Tulus.
Warga Beralih dari Nelayan ke Bertani
Surutnya air Waduk Bendo turut mengubah mata pencaharian warga. Sebelum air menyusut, kawasan tersebut ramai oleh aktivitas mencari ikan dan pemancing.
Namun, ketika permukaan air terus turun, perahu tidak lagi dapat digunakan secara normal. Sebagian warga kemudian beralih mengolah lahan yang sebelumnya tertutup genangan.
Tulus menyebut mayoritas warga Desa Ngadirojo bekerja sebagai petani. Karena itu, kemunculan lahan baru di dasar waduk menjadi kesempatan untuk memperoleh tambahan pendapatan.
“Air di sini untuk pengairan sawah. Tapi kalau lahannya kosong, eman. Harus ditanami supaya ada penghasilannya,” ujarnya.
Warga kini menanam berbagai komoditas, terutama jagung dan kacang tanah. Sebagian lainnya menanam sayuran di lahan bekas genangan tersebut.
Nelayan Harus Berjalan Kaki Mencari Ikan
Di sisi lain, surutnya Waduk Bendo membawa dampak langsung bagi nelayan dan pencari ikan.
Agung Margo, salah seorang pencari ikan, mengatakan penyusutan air mulai dirasakan sejak awal musim kemarau dan berlangsung sekitar empat bulan atau bahkan lebih.
“Kurang lebih mulai musim kemarau kemarin sampai sekarang mungkin sekitar empat bulanan. Bahkan lebih,” kata Agung.
Kondisi air yang semakin dangkal membuat perahu tidak lagi dapat beroperasi seperti sebelumnya. Warga yang masih mencari ikan bahkan harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai titik genangan yang tersisa.
Perubahan kondisi waduk juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Sebelum air menyusut, pemancing dari luar daerah disebut kerap datang ke kawasan tersebut. Kehadiran mereka turut menggerakkan usaha parkir dan warung milik warga.
Kini aktivitas itu ikut merosot karena jumlah pemancing berkurang drastis.
Bertani di Dasar Waduk Tak Lepas dari Persoalan Air
Pemanfaatan lahan bekas genangan bukan tanpa kendala. Warga tetap membutuhkan air untuk merawat tanaman yang mereka tanam.
Jaringan irigasi lama yang sebelumnya digunakan sebelum kawasan tersebut menjadi bagian dari waduk disebut sudah mengalami kerusakan. Untuk mengairi tanaman, warga harus mengambil air dari aliran sungai menggunakan pompa atau mesin diesel.
Persoalan lain datang dari hama. Warga menyebut hasil pertanian di lahan tersebut belum dapat dipastikan karena tanaman menghadapi gangguan hama, terutama tikus.
“Kalau hasilnya tidak menentu. Sekarang juga musim hama tikus banyak, jadi penghasilannya tidak seberapa,” ujar Tulus.
September Jadi Puncak Kemarau

