SURABAYA KANALINDONESIA.COM –
Ada yang menarik ketika para tokoh di Surabaya bicara tentang aksi demo yang terjadi di Jawa Timur terutama di Surabaya Agustus 2025 lalu.
Bicara sesuai kapasitasnya antara lain pengamat cagar budaya Edward Dewarucci, Ketua Perkumpulan Indonesia Muda Jatim Bung Picter, tokoh aktivis 98 Andreas Pardede, dan Pengamat Media Cak Rois, masing-masing punya pandangan uniiknya.
Diskusi yang dibalut lewat Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Quo Vadis Aksi Massa 2025: Demokrasi atau Anarki?” bertempat di Grand Surabaya Hotel, Kamis (11/9/2025). Digelar dalam rangka memperingati hari jadi media siginews.com
Perbincangan ini jadi makin seru karena dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), perwakilan pengemudi ojek online, budayawan Taufik Monyong, serta rekan-rekan media.
Menjadi pembicara pertama Cak Rois, menceritakan kejadian di Gedung negara Grahadi yang kemudian berakhir rusuh dan terjadi pembakaran salah satu sudut gedung bersejarah itu. Dari sisi jurnalis Cak Rois menilai banyak kejanggalan yang tejadi saat aksi demo dan akhirnya terjadi pembakaran ruang wakil gubernur Emil Elestianto Dardakitu.
“Insting jurnalis saya merasakan akan terjadi situasi yang beda di Grahadi, makanya saya akhirnya konsentrasi dengan situasi di Grahadi,” kata jurnalis yang malang melintang disejumlah media dan terjun langsung dibanyak peristiwa penting di Jatim ini.
Tidak salah, sesuai filingnya Pendiri dan Pemimpin Redaksi siginews.com menyehut melihat pergerakan massa yang mencurigakan. “Pergerakan massa kali ini terlihat berbeda sekali dari aksi-aksi mahasiswa atau massa aksi pada umumnya. Banyak lalu-lalang anak-anak muda berpakaian serbah hitam dengan mengendarai sepeda motor, Dan benar Grahadi dibakar,” ungkapnya, sambil menunjukkan rekaman video di lokasi kejadian ke audiens.
Kejadian di Grahadi ini juga menjadi perhatian Pengamat cagar budaya, Edward Dewaruci. Pria berkacamata ini mengungkapkan pandangannya terkait fenomena aksi denonstrasi yang terjadi, yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh media sosial.
Edward menyebut, kekuatan media sosial dan gaya hidup digital kini menjadi faktor utama yang harus diwaspadai. “Peluru saat ini berupa disinformasi, penyebaran fitnah, dan kebencian,” tegasnya.
Menurutnya, pergerakan massa kali ini tidak memiliki komando yang jelas, berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya.
“Yang menarik dari situasi yang terjadi di Jatim kemarin adalah korlapnya tidak kelihatan,” ujar Edward.
Namun Edward sangat menyayangkan tindakan perusakan, termasuk pembakaran cagar budaya. Ia menilai, para pelaku tidak memahami makna dan arti penting dari aset-aset bersejarah.
Ia berharap, kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap cagar budaya dapat tumbuh di masyarakat. Sebab bisa jadi bangunan-bangunan ini menjadi simbol penjajahan seperti jaman dulu. Padahal bangunan ini justru harusnya menjadi inspirasi pelaku budaya, “Mungkin alam Bawah sadar mereka ini adalah Simbol penjajahan pada bangunan bangunan yang dibakar. Kedepan sudah saat nya berpikir barang lama itu ada nilai yang menginspirasi pada prilaku budaya masyarakat,” harapnya.
Menurut mantan anggota KPU Surabaya ini, Akibat Gaya hidup digital, mereka mengganggap ini benda mati, gak apa-apa dirusak dijarah, sehingga kehilangan karakter budaya, “lni menunjukkan kita kekurangan karakter budaya,” ungkapnya .
Sementara pembicara ke tiga, Ketua Perkumpulan Indonesia Muda Jatim, Bung Picter, berpendapat bahwa aksi anarkis dalam demonstrasi sering kali dipicu oleh banyak faktor, terutama faktot ekonomi.

