PANGKEP, KANALINDONESIA.COM: Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung akhirnya membuahkan hasil. Pada hari ketiga pencarian, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi satu dari sebelas penumpang yang dinyatakan hilang sejak pesawat kehilangan kontak.
Meski identitas korban belum dirilis secara resmi, penemuan ini menjadi titik krusial dalam operasi kemanusiaan yang berlangsung di bawah cuaca ekstrem dan medan yang dikenal sangat terjal.
Penemuan korban pertama ini tidak dilalui dengan mudah. Sejak pukul 05.00 WITA, tim evakuasi darat yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan pecinta alam harus merangkak melalui lereng dengan kemiringan mencapai 70 derajat. Vegetasi hutan yang rapat dan kabut tebal yang menyelimuti puncak Bulusaraung membuat jarak pandang hanya berkisar antara 5 hingga 10 meter.
“Kondisi di titik temuan sangat sulit. Jenazah ditemukan di antara puing-puing sayap pesawat yang tersangkut di tebing batu,” ujar Komandan tim evakuasi di lapangan.
Proses evakuasi dilakukan dengan teknik lowering, yakni menurunkan jenazah menggunakan tandu khusus dan tali temali (rappelling) karena helikopter tidak memungkinkan untuk melakukan hovering atau mendarat akibat angin kencang yang tidak stabil.
Di kaki gunung, tepatnya di Posko Desa Tompobulu, suasana haru menyelimuti keluarga korban yang setia menunggu. Bagi keluarga, penemuan satu penumpang ini membawa perasaan yang campur aduk antara duka mendalam dan rasa syukur karena proses pencarian mulai menunjukkan titik terang.
“Kami hanya ingin mereka pulang, bagaimanapun kondisinya. Penemuan satu orang ini memberi kami harapan bahwa anggota keluarga kami yang lain juga bisa segera ditemukan,” ungkap salah satu kerabat penumpang yang menolak disebutkan namanya.
Kepala Kantor SAR setempat menegaskan bahwa setelah evakuasi korban pertama ini selesai dan dibawa ke RSUD terdekat untuk proses identifikasi (DVI), fokus utama tim akan tetap pada pencarian sembilan penumpang lainnya.
“Kami tidak akan menurunkan intensitas pencarian. Satu korban yang ditemukan memberikan petunjuk mengenai arah sebaran puing. Kami menduga korban lainnya berada tidak jauh dari koordinat tersebut, namun tertimbun material pesawat atau vegetasi yang runtuh saat benturan terjadi,” jelasnya.
Selain mencari korban, tim ahli dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga mulai bergerak menuju titik koordinat tersebut untuk mencari kotak hitam (black box) guna mengungkap penyebab pasti jatuhnya pesawat ATR 42-500 tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, ambulans yang membawa korban pertama telah bergerak menuju pusat identifikasi, sementara tim di atas gunung terus berpacu dengan waktu sebelum cuaca kembali memburuk di sore hari.

