Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL RELIGI

Menengok Masjid Bawah Tanah Aschabul Kahfi, Destinasi Religi di Kabupaten Tuban

Menengok Masjid Bawah Tanah Aschabul Kahfi, Destinasi Religi di Kabupaten Tuban
Wisata religi unik di Tuban, Masjid Bawah Tanah Aschabul Kahfi menyuguhkan bangunan masjid yang menyatu dengan gua alami dan menjadi daya tarik bagi para pengunjung. (Foto: Najib_kanalindonesia.com)

TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Sebuah tempat wisata religi yang cukup unik berada di Kabupaten Tuban, yakni Masjid Bawah Tanah Aschabul Kahfi. Masjid ini dikenal karena bangunannya yang menyatu dengan gua, menghadirkan suasana berbeda bagi para pengunjung.

Tempat ini mulai ditemukan dan dirintis pada 2002 oleh Kiai Subkhan Al Mubarok. Sebelum dibangun, lokasi tersebut merupakan tempat pembuangan sampah milik pemerintah daerah selama kurang lebih lima tahun. Kondisinya kotor, hingga kemudian dibersihkan secara bertahap selama kurang lehih 18 bulan. Sampah tidak dibakar, melainkan dipindahkan ke area gua di bagian belakang.

Lokasi masjid berada di Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban, Jawa Timur. Pembangunan awal dimulai dari area yang disebut “Ka’bah”, salah satu bagian di dalam kompleks masjid. Proses pembangunan berlangsung sekitar 12 tahun dan terus berlanjut, dengan pembiayaan dari dana pribadi serta sedekah.

Untuk menuju ruang utama, pengunjung membayar di petugas depan seharga Rp10.000 per orang, kemudian turun ke bagian bawah tanah. Ruangan ini biasanya digunakan untuk berdoa dan kegiatan tahlil.

Selain beribadah, pengunjung juga dapat melihat langsung struktur bangunan yang menyatu dengan gua. Di bagian atas gua, terdapat stalaktit yang sesekali meneteskan air.

“Biasanya peziarah datang kesini untuk berdoa dan tahlil, ada juga air yang dipercaya bisa menjadi obat,” ucap ramadanu, menantu dari kyai yang juga menjaga tempat tersebut.

Di dalam kawasan ini juga terdapat sumur sedalam 68 meter yang dibuat selama 23 bulan. Air dari sumur tersebut dipercaya sebagian pengunjung dapat dimanfaatkan sebagai obat.

Usai mengikuti tahlil, jamaah biasanya mendapatkan penjelasan mengenai sejarah tempat tersebut, sekaligus wasilah. Mereka juga bisa mengambil beras kuning rukyah dan kacang hijau.

Pengunjung umumnya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Jumlahnya meningkat saat bulan Rajab dan Suro, yang bisa mencapai ratusan orang.

Di bagian atas area, terdapat Pesantren Perut Bumi Al Maghribi dengan sekitar 20–30 santri, sebagian berasal dari luar daerah seperti Lampung.

Selain itu, di kawasan ini juga terdapat sejumlah petilasan tokoh, di antaranya Singo Joyo, Putri Ayu Sendang Harjo, serta Syekh Maulana Al Maghribi.

Masjid utama berada di bawah tanah dan kerap digunakan untuk tahlil, sementara beberapa area lain, termasuk ruang dengan dekorasi Ka’bah, digunakan untuk salat, terutama pada akhir pekan. (Najib)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita