TEHERAN, KANALINDONESIA.COM: Dunia kini berada di ambang krisis energi hebat setelah Pemerintah Iran secara resmi memblokade Selat Hormuz. Jalur yang menjadi urat nadi distribusi 30% minyak mentah dunia tersebut kini tertutup total bagi pelayaran internasional, memicu kekhawatiran akan terjadinya “serangan jantung” pada ekonomi global.
Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai respons atas meningkatnya ketegangan regional. Militer Iran bahkan mengeluarkan ancaman tanpa kompromi bagi siapa pun yang berani melanggar kedaulatan perairan tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa mereka tidak akan segan menggunakan kekuatan militer penuh untuk menjaga blokade ini.
“Kami tidak akan membiarkan satu pun kapal melintasi perairan kami tanpa izin. Siapa pun yang nekat melanggar, armada kami telah bersiap untuk membakar kapal-kapal tersebut di tengah laut,” tegas juru bicara IRGC dalam pernyataan resminya.
Penutupan ini bukan sekadar gertakan politik, melainkan strategi untuk menunjukkan kendali mutlak Iran atas jalur perdagangan energi yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia.
Para analis ekonomi memperingatkan bahwa dunia tidak memiliki cadangan yang cukup untuk menggantikan 21 juta barel minyak yang melintas di Selat Hormuz setiap harinya. Berikut adalah simulasi dampak yang diprediksi akan segera terjadi harga minyak mentah dunia diproyeksikan meroket ke angka $100 hingga $150 per barel dalam hitungan hari; perusahaan kargo harus memutar rute ribuan kilometer lebih jauh, memicu kenaikan biaya angkut barang internasional; Kenaikan biaya energi akan langsung memukul harga pangan dan barang konsumsi di seluruh dunia, termasuk Indonesia; menguatnya Dolar AS sebagai aset safe haven akan menekan mata uang negara berkembang, memperburuk beban impor BBM.
Negara-negara importir besar seperti Tiongkok, Jepang, dan India kini berada dalam posisi sulit.
Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya kemungkinan besar akan mempertimbangkan operasi pengawalan militer untuk membuka kembali jalur internasional tersebut.
Namun, selama ketegangan di Teheran belum mereda, pasar energi global dipastikan akan terus bergejolak.
Dunia kini hanya bisa menunggu, apakah jalur ini akan segera dibuka melalui jalur diplomasi, ataukah kita sedang menuju resesi global akibat perang energi?

