TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Fenomena pengamen, pengemis hingga badut jalanan di Kabupaten Tuban masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Meski razia dan pendampingan telah berulang kali dilakukan, keberadaan mereka masih mudah ditemui di sejumlah titik jalan protokol dan lampu merah.
Beberapa lokasi yang kerap menjadi tempat mangkal di antaranya kawasan sekitar SMPN 4 Tuban, lampu merah Karangwaru, hingga traffic light di Jalan Pemuda sisi utara. Hampir setiap hari, para pengamen dan pengemis itu turun ke jalan membawa alat musik, kotak uang, hingga kostum badut untuk menarik perhatian pengguna jalan.
Mereka biasanya menghampiri pengendara satu per satu saat lampu merah menyala. Tidak sedikit pengendara yang memilih memberi uang, baik karena iba maupun merasa sungkan menolak.
Fenomena tersebut dinilai bukan sekadar persoalan ketertiban umum, tetapi juga berkaitan dengan faktor ekonomi.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Sosial P3A PMD Kabupaten Tuban Eko Wardono melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Korban Tindak Kekerasan, Hermawan Winarto mengatakan, penghasilan yang diperoleh dari jalanan membuat sebagian dari mereka memilih kembali mengamen.
“Pendapatan mereka lumayan, antara seratus sampai dua ratus, makanya mereka lebih suka dijalanan,” jelas Hermawan.
Menurutnya, Dinsos sebenarnya telah beberapa kali melakukan penanganan. Mulai dari pendataan, asesmen hingga rehabilitasi sosial. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif karena sebagian kembali turun ke jalan setelah dipulangkan.
“Kita rehab, lalu kembalikan lagi ke keluarga tapi ya besoknya kembali lagi ke jalanan,” tambahnya.
Hermawan menjelaskan, setelah diamankan, para pengamen dan pengemis biasanya dibawa untuk dilakukan asesmen sebelum direhabilitasi. Namun, keterbatasan kapasitas panti sosial juga menjadi kendala dalam penanganan.
“Setelah dilakukan asesmen dan direhab, biasanya dibawa ke panti PMKS, tapi berhubung panti penuh jadi dikembalikan ke keluarga,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP dan Damkar Tuban, Sutaji. Ia mengakui pengamen dan pengemis masih ditemukan di sejumlah titik, meski menurutnya jumlahnya mulai berkurang dibanding sebelumnya.
“Kalau kita lihat secara umum ini memang ada penurunan ya,” ujarnya.
Sutaji mengatakan, penertiban rutin dilakukan melalui penegakan Peraturan Daerah tentang ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Setelah diamankan, mereka kemudian diserahkan ke Dinas Sosial untuk mendapatkan pendampingan lebih lanjut.
“Kami selalu komunikasi dengan dinas sosial, setelah kami tindak lanjuti kami limpahkan ke dinas sosial untuk diberikan pendampingan,” katanya.
Selain penertiban, Pemkab Tuban juga mulai menyiapkan rencana pembinaan bagi pengamen jalanan. Salah satu wacana yang tengah dibahas yakni menyediakan ruang pertunjukan khusus di kawasan Pantai Boom.
“Kami berencana dengan dinas terkait untuk membuat program, bagi warga Tuban dan gelandangan akan dibuatkan program dari dinas sosial,” lanjutnya.
Di sisi lain, keberadaan pengamen dan pengemis di jalanan juga tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih kerap memberi uang secara langsung. Kondisi itu dinilai membuat mereka terus kembali ke jalan karena merasa penghasilan yang didapat cukup menjanjikan.
“Dengan adanya banyak pengamen selain dilaporkan, jangan dikasih uang, karena dengan dikasih uang mereka akan balik bahkan bisa membawa teman-temannya,” tegas Sutaji.
Fenomena pengamen dan gelandangan ini pun masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Tuban. Di tengah upaya menata wajah kota agar lebih tertib dan nyaman, keberadaan mereka di jalanan menunjukkan persoalan sosial yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. (Najib)

