SURABAYA, KANALINDONESIA.COM : Impian Thomas Julianus Kristianto (19) untuk menyongsong masa depan setelah lulus SMA harus kandas secara tragis. Pemuda asal Surabaya ini mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Dr. Soetomo setelah menjadi korban dugaan pengeroyokan brutal di belakang SMAN 11 Surabaya tempat sekolahnya.
Peristiwa kelam ini menyisakan duka yang amat mendalam, terutama bagi sang kakek, Margono (88). Lansia yang telah merawat Thomas seorang diri sejak kedua orang tua korban tiada di bangku SMP itu kini harus kehilangan cucu tercintanya dalam sebuah aksi kekerasan jalanan.
Kamis malam itu awalnya berjalan biasa. Thomas berpamitan kepada sang kakek untuk pergi keluar sebentar bersama seorang rekannya. Namun, firasat buruk mulai menyelimuti Margono ketika sang cucu tak kunjung kembali hingga larut malam.
Kekhawatiran itu berubah menjadi kenyataan pahit saat seorang teman Thomas datang membawa kabar bahwa Thomas tengah berada di Klinik Dokter Danu dalam kondisi kritis.
“Sudah tidak sadar, darahnya keluar dari kepalanya,” kenang Margono dengan suara bergetar saat ditemui di rumah duka, Kamis (04/06).
Situasi sempat pelik karena klinik pertama tempat Thomas dievakuasi merupakan fasilitas rumah sakit bersalin. Keluarga yang panik sempat kesulitan mencari ambulans sebelum akhirnya berhasil merujuk Thomas ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan tindakan darurat.
Nahas, meski tim medis telah melakukan upaya maksimal termasuk tindakan operasi, nyawa Thomas tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Jumat pagi sekitar pukul 05.00 WIB.
Berdasarkan informasi yang dihimpun pihak keluarga, aksi pengeroyokan brutal tersebut diduga terjadi di kawasan warung belakang SMA Negeri 11 Surabaya sekolah tempat Thomas baru saja menyelesaikan pendidikannya.
Hingga saat ini, jenazah korban masih menjalani proses autopsi untuk memperkuat bukti penunjang mengenai penyebab pasti kematian akibat kekerasan fisik.
Di mata Margono, Thomas adalah sosok pemuda yang santun, rajin beribadah ke gereja, dan memiliki catatan akademik yang baik. Ironisnya, Thomas meninggal dunia di saat ia sedang menunggu jadwal pengambilan ijazah kelulusan SMA nya.
Di usia senjanya, Margono kini harus berjuang sendirian di tengah ruang kosong yang ditinggalkan cucunya. Tidak banyak yang ia minta dari pihak berwajib selain transparansi hukum dan penangkapan para pelaku.
“Kami cuma ingin keadilan,” ucap Margono lirih.
Aparat kepolisian setempat dilaporkan telah bergerak melakukan penyelidikan mendalam, mengumpulkan keterangan saksi, dan melacak keberadaan para pelaku di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) demi mengusut tuntas kasus ini ke ranah hukum. (SNT).

