SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM : Di tengah tantangan mencari lapangan pekerjaan, tiga warga Dusun Girang, Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, justru berhasil menciptakan peluang ekonomi baru dengan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif melalui budidaya tanaman herbal kumis kucing.
Ketiga pelopor tersebut adalah Herwanto, anggota TNI aktif, bersama Bambang Sutejo dan Imam Suroso. Berawal dari keprihatinan melihat banyaknya lahan kosong yang tidak dimanfaatkan serta keluhan petani akibat serangan hama tikus, mereka berinisiatif mengembangkan budidaya tanaman kumis kucing yang dikenal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Minggu (02/08/2026).
Selain bernilai ekonomis, tanaman herbal ini juga relatif mudah dibudidayakan karena tahan terhadap hama dan tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Kondisi tersebut dinilai sangat cocok dikembangkan sebagai alternatif usaha bagi masyarakat.
Herwanto mengaku, pada awal merintis usaha tersebut dirinya bersama rekan-rekannya sempat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keraguan masyarakat hingga berbagai tekanan. Namun, berbekal keyakinan dan semangat untuk memberdayakan masyarakat, mereka terus mengembangkan budidaya kumis kucing hingga mampu memproduksi teh herbal dengan merek Herbaroso.
“Di awal kami memang jatuh bangun. Banyak yang meragukan budidaya kumis kucing ini. Tetapi kami tetap optimistis karena yakin tanaman ini memiliki manfaat kesehatan sekaligus nilai ekonomi yang baik. Saat ini kami sudah memproduksi teh herbal Herbaroso meski produksinya masih terbatas,” ujar Herwanto kepada Kanalindonesia.com.
Dengan latar belakang sebagai tenaga kesehatan di TNI AL, Herwanto melihat kebutuhan masyarakat terhadap tanaman herbal semakin meningkat. Menurutnya, kumis kucing memiliki khasiat yang baik untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan seperti asam urat, kolesterol, hipertensi hingga menjaga kesehatan ginjal.
“Di antara berbagai tanaman herbal yang saya pelajari, kumis kucing memiliki banyak manfaat dan insyaallah sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada produksi teh herbal, Herwanto juga membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang memiliki lahan kosong. Ia siap menyediakan bibit sekaligus membeli hasil panen petani sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pemasaran.
“Kalau ada lahan tidur, silakan ditanami kumis kucing. Bibit kami sediakan dan hasil panennya akan kami beli dengan harga Rp3.000 per kilogram dalam kondisi basah. Masa panennya sekitar 30 hari,” terangnya.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari para petani. Salah satunya Suparto (70), warga setempat, yang mengaku sebelumnya kerap mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus saat menanam komoditas lain.
“Alhamdulillah sekarang setiap 30 hari bisa panen. Kemarin hasil panen saya mencapai 179 kilogram. Perawatannya juga mudah, cukup disiram, dibersihkan dari rumput liar, dan diberi pupuk kandang,” ungkapnya.
Melalui inovasi sederhana tersebut, budidaya kumis kucing tidak hanya mengubah lahan tidur menjadi lebih produktif, tetapi juga membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pengurangan angka pengangguran di Kabupaten Sidoarjo.

