Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL SIDOARJO

Emak-emak Wonokupang Gelar Lomba Unik, Racik Teh Herbal Kumis Kucing, Meriahkan HUT ke-81 RI

Emak-emak Wonokupang Gelar Lomba Unik, Racik Teh Herbal Kumis Kucing, Meriahkan HUT ke-81 RI

SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM – Ada-ada saja kreativitas warga Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jika biasanya emak-emak mengikuti lomba makan kerupuk, memasukkan pensil ke botol, atau joget kemerdekaan, warga Desa Wonokupang justru memilih perlombaan yang terbilang unik dan tak biasa, yakni lomba meracik teh herbal kumis kucing.

Lomba tersebut menggunakan teh herbal kumis kucing Herbaroso, yang digagas oleh Herwanto, Imam Suroso dan Bambang Sutejo. Sejumlah emak-emak tampak antusias mengikuti perlombaan sambil menunjukkan kreativitas masing-masing dalam mengolah dan menyajikan minuman herbal.

Penggagas Herbaroso, Herwanto, mengatakan lomba tersebut sengaja dibuat berbeda dari perlombaan Agustusan pada umumnya. Selain untuk memeriahkan HUT ke-81 RI, kegiatan itu sekaligus menjadi sarana mengenalkan kembali tanaman obat herbal yang merupakan kekayaan Indonesia.

“Memang sengaja kami membuat lomba yang lain daripada yang lain. Kami ingin memperkenalkan kembali tanaman obat herbal Indonesia, khususnya kumis kucing, kepada masyarakat,” ujar Herwanto.

Menurutnya, masyarakat saat ini lebih banyak mengenal produk kesehatan berbahan kimia. Karena itu, pihaknya ingin mengajak masyarakat kembali mengenal tanaman herbal yang tumbuh di lingkungan sekitar.

“Kami berharap masyarakat ikut menanam, memproduksi, menikmati dan merasakan manfaat dari teh kumis kucing Herbaroso. Ini bagian dari upaya mengingatkan kembali bahwa Indonesia memiliki kekayaan tanaman herbal,” katanya.

Dalam lomba tersebut, peserta tidak sekadar dituntut membuat teh. Mereka harus memperhatikan sejumlah aspek mulai dari cita rasa, aroma, warna, teknik meracik, kebersihan, kreativitas racikan hingga cara penyajian.

Herwanto menjelaskan, salah satu penilaian adalah karakter rasa teh kumis kucing. Peserta dituntut mampu menghasilkan rasa yang nyaman dan tetap mempertahankan karakter khas teh tersebut.

“Aroma juga menjadi penilaian. Kumis kucing memiliki aroma khas yang harus tetap terasa dalam racikan,” jelasnya.

Selain rasa dan aroma, warna minuman juga menjadi perhatian. Peserta diharapkan mampu menghasilkan warna teh yang menarik, termasuk warna kuning keemasan yang menjadi salah satu karakter tampilan teh kumis kucing.

Hal yang tak kalah menarik adalah teknik meracik. Dari pengamatan panitia, masih ditemukan peserta yang melakukan kesalahan ketika mengolah dan meracik teh.

“Dari beberapa peserta yang kami cek, ternyata masih banyak kesalahan dalam teknik meracik. Ini justru menjadi bagian menarik dari lomba karena peserta bisa belajar cara mengolah teh herbal dengan benar,” ungkapnya.

Kebersihan juga menjadi salah satu kriteria utama. Peserta dinilai mulai dari kebersihan bahan, peralatan, proses peracikan hingga penyajian.

Tak berhenti di situ, kreativitas peserta dalam menambahkan bahan herbal lain juga menjadi bagian penilaian. Peserta diperbolehkan melakukan inovasi dengan mengombinasikan kumis kucing bersama bahan herbal pendamping.

“Untuk kreativitas racikan, peserta bisa menambahkan beberapa item herbal sebagai bahan pendamping. Yang dinilai adalah bagaimana kolaborasi bahan tersebut, termasuk alasan pemilihannya dan karakter minuman yang dihasilkan,” paparnya.

Penilaian terakhir juga mencakup penyajian dan penampilan. Peserta dituntut mampu menyajikan teh herbal dengan tampilan menarik serta menjelaskan racikan yang dibuat.

Peserta bahkan harus memaparkan bahan-bahan yang digunakan dan tujuan dari kombinasi herbal tersebut.

“Jadi bukan hanya membuat dan menyajikan teh. Peserta juga harus menjelaskan racikannya, bahan apa yang digunakan dan konsep dari racikan tersebut,” imbuh Herwanto.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita