GRESIK, KANALINDONESIA.COM : Tak ada yang lebih berat bagi seorang ayah selain harus menahan rindu kepada anak dan istri dari balik jeruji besi. Momen itulah yang terasa begitu kuat di ruang tahanan Polres Gresik, Selasa (1/9/2026).
Di tengah proses hukum yang harus mereka jalani, dua tahanan berinisial ES, warga Krembangan, Kecamatan Kebomas, serta HS, warga Bungah, mendapat kesempatan bertemu dengan keluarganya. Pertemuan sederhana itu berubah menjadi momen penuh haru.
Begitu berhadapan dengan anak dan istrinya, suasana seketika berubah. Rasa rindu yang selama ini hanya dipendam akhirnya tumpah dalam pelukan.
Tak banyak kata yang terucap. Pelukan erat antara ayah, anak dan istri seolah menjadi bahasa yang mampu menggambarkan kerinduan yang tak terukur.
ES tengah menjalani proses hukum dalam perkara penggelapan. Sementara HS harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dalam kasus uang palsu.
Meski keduanya sedang berhadapan dengan proses hukum, petugas memberikan ruang bagi keluarga untuk bertemu secara lebih dekat dengan tetap memperhatikan prosedur pengamanan.
Tangis haru pun tak terhindarkan. Para istri yang sehari-hari menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga berusaha menguatkan suami mereka. Begitu pula anak-anak yang datang, seakan ingin menyampaikan bahwa di balik jeruji masih ada keluarga yang menunggu dan memberikan dukungan.
Kehadiran keluarga tersebut menjadi suntikan semangat bagi para tahanan untuk tetap tabah menghadapi proses hukum yang sedang berjalan.
Bagi seorang anak, pelukan ayah mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka yang harus menjalani hari-hari di balik jeruji, pelukan itu bisa menjadi penguat untuk bertahan.
Di Polres Gresik, kunjungan tahanan dilaksanakan setiap Selasa dan Kamis, mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Kesempatan tersebut diberikan agar keluarga tetap dapat menjalin komunikasi dan memberikan dukungan kepada orang terdekat yang sedang menjalani proses hukum.
Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution menegaskan bahwa proses penegakan hukum tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ini demi kemanusiaan. Meski mereka sedang menjalani proses hukum atas perbuatannya, hak-hak dasar dan sisi humanis sebagai seorang ayah serta suami tetap harus kita hargai,” tegas AKBP Ramadhan Nasution.
Menurutnya, pendekatan humanis bukan berarti memberikan keistimewaan atau mengesampingkan aturan. Penegakan hukum tetap berjalan sesuai ketentuan, namun di saat yang sama polisi juga harus mampu melihat sisi kemanusiaan dari setiap orang yang sedang berhadapan dengan hukum.
Momen pelukan di balik jeruji itu akhirnya menjadi gambaran bahwa hukuman bukan berarti memutus hubungan seorang ayah dengan keluarganya.
Di balik pintu tahanan, tetap ada seorang suami yang dirindukan istrinya, seorang ayah yang dinantikan anak-anaknya, dan sebuah keluarga yang berharap orang yang mereka cintai dapat melewati proses hukum dengan tabah dan kelak kembali berkumpul bersama mereka.

