NGAWI, KANALINDONESIA. COM – Kementerian Sosial (Kemensos) RI menyatakan program strategis nasional Sekolah Rakyat (SR) tercatat ada 182 titik Sekolah Rakyat yang telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia dari target total 282 titik yang akan terbangun dalam beberapa tahun ke depan.
Hal itu disampaikan Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 1 Ngawi yang berada di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Saifullah Yusuf, dari 182 titik yang sudah beroperasi tersebut, sebanyak 89 titik di antaranya masih berstatus rintisan dengan memanfaatkan gedung sementara. Sementara itu, 93 titik sisanya sudah memasuki tahap pembangunan gedung permanen maupun telah beroperasi secara penuh.
“Hari ini ada 182 titik yang beroperasi dari Sabang sampai Merauke. Sebanyak 93 di antaranya menggunakan gedung permanen dan sisanya masih rintisan menggunakan gedung sementara sambil menunggu proses pembangunan tahap berikutnya. Ke depan kita bangun lagi 100 titik,” ujarnya Saifullah Yusuf.
Pemerintah pusat juga menargetkan setiap kabupaten/kota di Indonesia minimal memiliki satu gedung permanen Sekolah Rakyat. Jika seluruh fasilitas telah beroperasi penuh, program ini diperkirakan mampu menampung hingga lebih dari 500.000 siswa di seluruh Indonesia.
Yaifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul itu mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi yang langsung memfasilitasi gedung permanen tanpa harus mengawali dengan sekolah rintisan.
Dalam satu kompleks bangunan sekolah rakyat permanen, Gus Ipul memproyeksikan mampu menampung lebih dari 1.000 siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA. Sekolah ini mengusung konsep boarding school 24 jam yang mengintegrasikan asrama, pendidikan formal, dan pembinaan karakter.
Mensos juga menegaskan penentuan siswa Sekolah Rakyat tidak membuka sistem pendaftaran terbuka, melainkan melalui mekanisme penjangkauan yang mengutamakan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terdata dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSen).
“Di Ngawi ini ada lebih dari 200 siswa, memang masih ada beberapa yang akan dilakukan penjangkauan kembali khususnya yang di tingkat Sekolah Dasar. Selain itu untuk gurunya ini masih dalam proses seleksi kemudian tenaga kependidikan yang lain juga sama masih dalam proses seleksi yang akan selesai di akhir atau awal Oktober,” Tegasnya.
Untuk mendukung masa adaptasi dan operasional awal, Kemensos turut meminta dukungan Pemkab Ngawi terkait pengamanan dari Satpol PP, pengelolaan sampah, serta tenaga pendamping asrama. Selain itu, Mensos mengingatkan agar pelaksanaan program ini dijaga ketat dari segala bentuk penyimpangan.
“Ini program strategis Bapak Presiden, tidak boleh dikotori dengan tindakan koruptif, baik dalam rekrutmen siswa, seleksi guru, maupun pengadaan barang dan jasa. Semuanya harus sesuai ketentuan,” Tutur Saifullah Yusuf. (Rizal)

