Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TRAVEL

Agama Akhlak VS Agama Kekuasaan

Oleh : Denny JA

Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, dan Penulis Buku

– Kembali ke Esensi Agama: Kembali ke Tasawuf?

“Agamaku adalah cinta. Setiap hati manusia menjadi rumah ibadahku.”

Membaca kembali penggalan puisi Rumi ini, saya teringat berita di New Yorker, 2017. (1)

Diceritakan di berita itu kisah personel terkenal Cold Play. Namanya Chris Martin.

Ia tengah bersedih hati, depresi, mengalami krisis eksistensial. Salah satunya karena pencarian meaning of life dan perceraian dengan istri yang dicintainya, artis Gwyneth Paltrow.

Ujar Chris Martin, deritaku disembuhkan oleh buku spiritual. Seorang teman memberiku sebuah buku. Ternyata itu buku puisi Jalaluddin Rumi.

Betapa banyak kearifan hidup yang aku dapatkan dari buku Rumi itu. Derita yang aku alami saat itu juga bisa aku lihat dari perspektif yang berbeda, kata Chris Martin.

Banyak ucapan Rumi yang menyentuh: “Sambutlah derita yang datang padamu sebagai tamu kehormatan. Sangat mungkin derita itu datang membawa pesan Tuhan, untuk pencerahanmu. Kesadaran yang lebih tinggi justru datang melalui lukamu.”

Jalaluddin Rumi memang sangat populer di era modern di Amerika Serikat. Menurut BBC, Rumi bahkan lebih populer dibanding penyair terkenal Amerika Serikat sekalipun, seperti Walt Whitman, Robert Frost, Emily Dickinson. Itu terlihat dari jumlah bukunya yang dibeli setiap tahun.

Puisi Rumi tak hanya dibacakan di mesjid, tapi juga di gereja, sinagog dan universitas.

Yang membaca puisi Rumi bukan hanya mahasiswa sastra atau akademisi, tapi juga aneka artis holywood.

Rumi terasa membawa pesan soal cinta dan kebajikan universal. Itu pesan spiritual, inspirasi akhlak yang melampaui sekat agama, negara, etnis dan kelas ekonomi.

Tapi apakah pesan Rumi yang sampai ke dunia barat itu pesan asli Rumi? Apakah yang beredar luas di masyarakat barat itu adalah seperti buku aslinya Masnavi, dalam bahasa persia itu?

Di sinilah sisi menarik soal terjemahan puisi Rumi di dunia barat. Banyak sekali karya Rumi dalam bahasa Inggris diterjemahkan oleh Coleman Bark.

Ia seorang penyair dan ahli sastra Inggris. Coleman menghabiskan waktu 30 tahun menekuni karya Rumi.

Kritik paling keras datang dari Omid Safi. Omid you juga berasal dari kultur Persia, sama seperti Rumi. Lalu ia mengajar di Amerika Serikat, di Duke University.

Safi meradang keras sekali. Katanya, pesan dan puisi Rumi yang beredar di dunia barat tidak sama dengan puisi asli Rumi. Yang beredar di barat itu tafsir bebas atas puisi Rumi. Tafsir itu menghilangkan akar formalitas agama Islam, sebagai agama Rumi.

Sang penerjemah Rumi, Coleman Barks, ujar Safi bahkan tak bisa membaca bahasa Persia. Ia hanya menerjahkan Rumi dari terjemahan bahasa Inggris lainnya.

Dan Coleman Barks melakukan universalisasi pesan dan liberalisasi puisi Rumi. Ini Rumi yang ditampilkan sesuai dengan kultur barat.

Ini bukan terjemahan Rumi, tapi lebih tepatnya ini sudah tafsir universal bahkan tafsir liberal atas pesan Rumi.

Tapi betapapun keras kritik Omid Safi, justru tafsir universal inilah yang dirasakan sesuai dengan mindset zaman ini. Bukan puisi aslinya, namun terjemahan bebas karya Rumi itu yang menjadi obat spiritual banyak orang di dunia.

Tak hanya teks puisi Rumi yang bisa berbeda jika ditafsir secara berbeda. Kitab suci pun tampil secara berbeda jika juga ditafsir berbeda.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita