Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TRAVEL

Agama Akhlak VS Agama Kekuasaan

Pada titik ini kita membicarakan buku Nursamad Kamba: Mencintai Allah Secara Merdeka (2020). Hari ini kita syukuran 1000 hari wafatnya sang sahabat. Saya memanggilnya Kak Nur.

Kak Nur juga berhasil ikut membangun komunitas tasawuf Maiya. Pikiran dan buku karangannya menjadi pedoman komunitas ini dan lainnya.

Dalam buku itu, Kak Nur banyak menguraikan pentingnya mengembalikan tafsir Islam sebagai agama akhlak. Dijelaskan pula sejarah pertarungan tafsir di era awal Islam dalam buku itu. Termasuk suasana sebelum kelahiran Islam.

Nabi Muhammad menikah dengan Siti Khadijah ketika ia berusia 25 tahun. Komunitasnya meyakini Nabi menerima wahyu pertama ketika Nabi Muhummad berusia 40 tahun.

Itu berarti selama 15 tahun, Muhammad hidup dengan khadijah sebelum ia diyakini mendapatkan wahyu.

Kala itu di masyarakat Mekah dan sekitarnya sudah tumbuh komunitas agama yang hanif. Muhammad sebelum menjadi Nabi berada dalam pergaulan komunitas ini.

Empat orang yang disebut Ibnu Hisyam berada dalam agama yang hanif. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Zaid bin Amr bin Nufail, Ubaidullah bin Jahsy, dan Utsman bin al-Huwairits.

Pada awalnya Islam itu agama akhlak. Buku karangan Nursamad ini bertaburan ayat Quran dan Hadis yang menegaskan itu.

Antara lain: Hadis HR AR-Bukhori, tentang tugas Nabi Muhammad: “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan ahlak yang mulia, budi pekerti yang luhur.”

Juga Quran, Surah Al-Anbiya 107:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta Alam.

Pun di Quran, Surah Al Baqarah 148:

“Bagi tiap tiap umat ada Kiblatnya sendiri, yang ia menghadap kepadanya. Dan berlomba-lombalah dalam membuat kebajikan.

Dalam buku ini ditegaskan, tasawuf bukan hanya salah satu cabang saja dalam ajaran Islam. Tasawuf itu sendiri sebuah jalan, sebuah pandangan hidup yang holistik.

Tasawuf itu jalan hidup yang terus menerus menyucikan jiwa, membersihkan hati, menyerukan kebaikan, dan mengalami kebersamaan dengan Allah.

Tasawuf tak hanya untuk mereka yang secara formal beragama Islam. Tapi ini sikap hidup yang dapat dipeluk oleh siapapun. Apapun agama.

Nursamad Kamba tak hanya menggali isi Quran. Ia sendiri memang Ph.D dari universitas di Kairo. Ia juga hafal Al-Quran. Ia pun menelusuri proses kelahiran agama Islam.

Dimulailah era kenabian Muhammad. Pengikut awal Muhammad adalah mereka yang berorientasi penyempurnaan akhlak. Telah datang agama yang memang ingin menyempurnakan Ahlak.

Tapi terjadilah perang Badr. Kaum Quraish sangat bersemangat menumpas Nabi Muhammad dan pengikutnya. Perang sebenarnya tak berimbang. Quraish sangatlah kuat.

Namun perang Badr justru dimenangkan oleh Nabi Muhammad. Perang Badr menjadi penting dalam tonggak perkembangan Islam selanjutnya.

Atas kemenangannya, Nabi Muhammad menjadi daya tarik baru. Berbondong bondong masyarakat pindah memeluk Islam. Islam dianggap potensial menjadi pusat kekuasaan baru.

Namun motif bergabung dengan Islam pasca perang Badr berbeda. Mereka lebih banyak bergabung dengan orientasi kekuasaan. (Halaman 41).

Maka dimulaiah perbedaan motif dan prilaku dalam beragama Islam. Ada yang motif dan prilakunya menjadikan agama Islam sebagai Agama yang menyempurnakan Ahlak. Agama budi pekerti. Agama Cinta.

Ada pula yang prilakunya menjadikan Agama Islam sebagai jalan hidup menuju kekuasaan.

Tafsir Agama Ahlak versus Tafsir Agama Kekuasaan terus berlanjut hingga kini. Perbedaan tafsir ini tak hanya terjadi pada agama Islam. Namun ini juga terjadi pada semua agama lain.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita