Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL TRAVEL

Agama Akhlak VS Agama Kekuasaan

Seruan agar tafsir Islam kembali pada khittahnya sebagai jalan tasawuf, jalan cinta, sangat relevan saat ini. Apalagi di era politisasi agama begitu kuat.

Agama Islam dijadikan instrumen bukan untuk moralitas agama yang tinggi. Tapi agama sekedar instrumen perebutan atau kehendak untuk berkuasa di sebuah negara.

Seruan itu lebih kuat lagi tafsir karena memiliki akar yang panjang.

Tersebutlah Ibn Qayim yang hidup di abad 14. Ia murid menonjol dari Ibn Taimiyah. Menurutnya, akar dari Islam adalah Cinta. Quran disebutnya buku dari Tuhan sebagai ajaran untuk mencintai.

Semua agama Tuhan menurutnya bersandar pada satu kesamaan: Cinta. Ada 124 ribu Nabi di seluruh dunia. Semua membawa pesan yang sama: Cinta.

Sham i Tabrizi, yang disebut guru Jalaluddin Rumi, hidup di abad 13, menyatakan hal sama. Ia menyebut wahyu itu semacam surat Tuhan soal Cinta. Jika para ulama lain, ahli hukum, teolog tak melihat agama wahyu itu sebagai ajaran cinta, itu karena mereka bias dengan pra kondisi pengetahuannya sendiri.

Menyambut 1000 hari wafatnya sahabat kita Nursamad Kamba, kita dengarkan kembali yang menjadi inti pesannya. Bersama kita memperkuat agama akhlak, agama cinta.

CATATAN

1. Selebrity disembuhkan oleh buku spiritual Jalaluddin Rumi dan kritik atas terjemahan karya Rumi

https://www.newyorker.com/books/page-turner/the-erasure-of-islam-from-the-poetry-of-rumi

(*Transkipsi dari pidato lisan membuka diskusi soal Tasawuf dalam acara 1000 hari wafatnya Guru Komunitas Maiya, Nursamad Kamba)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita