Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Agama Memanusiakan Manusia

Di sinilah pentingnya umat beragama selalu mengembangkan nalar kritis, rasional, dan mengedepankan prinsip keadilan serta pemenuhan hak asasi manusia.

Ke depan, diharapkan semua umat beragama memiliki konsen untuk mendakwahkan tafsir atau pandangan keagamaan yang humanis dan inklusif.

Hal itu, perlu dilakukan, terutama oleh para pemuka agama demi menghindari berbagai konflik yang berisiko memecah umat dan bangsa. Di antara tafsir inklusif adalah terkait paham keadilan dan kesetaraan gender yang dikembangkan oleh para feminis Islam.

Umumnya, tafsir inklusif tersebut berdasarkan konsep tauhid secara benar sehingga mengantarkan kepada prinsip kesetaraan, keadilan, dan kemerdekaan manusia.

Keyakinan bahwa tidak ada manusia yang setara dengan Tuhan, pada gilirannya melahirkan pandangan kesetaraan manusia sebagai sesama makhluk. Tidak ada manusia yang boleh dipertuhankan dalam arti dijadikan tujuan hidup dan tempat bergantung, ditakuti, disembah, dan seluruh tindakannya dianggap benar tanpa syarat.

Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, suami bukanlah tuhan bagi istri, orang kaya bukanlah tuhan bagi orang miskin dan seterusnya. Ketakutan dan ketaatan tanpa syarat kepada raja, pemimpin, atasan atau suami yang melebihi ketaatan dan ketakutan kepada Tuhan merupakan pengingkaran terhadap prinsip tauhid.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita