Dengan demikian, tauhid tidak sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, dan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kepada keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang egalitarian, adil dan berkeadaban.
Penafsiran keagamaan yang sering digugat para pemikir pembaru Islam, bukan saja diskriminatif terhadap perempuan, melainkan juga mengabaikan perasaan dan pengalaman perempuan, padahal pengalaman perempuan penting menjadi pertimbangan dalam penyusunan suatu tafsir.
Para perempuan merasa direndahkan karena pengalaman dan pengetahuan mereka diabaikan dalam refleksi teologis. Bentuk lain peminggiran pengalaman perempuan dalam penafsiran teologi, dilakukan dengan cara melarang perempuan aktif mempelajari dan mengajarkan tradisi teologis.
Sikap kritis terhadap tradisi dalam konteks pengalaman perempuan sangat penting, bukan sekadar menambahkan suatu sudut pandang baru kepada bangunan yang ada.
Pengalaman perempuan sangat diperlukan dalam merekonstruksi penafsiran bias gender atas nama agama.
Denny JA berulang kali menekankan pentingnya mengembangkan tafsir agama yang tidak mendiskriminasi kelompok mana pun, termasuk kaum perempuan, disabilitas, lansia dan kelompok minoritas suku dan agama, serta minoritas gender yang tertindas, seperti kelompok LGBT.
