Dari semua partai yang ada di parlemen, dalam survei Mei 2023, PDIP menjadi partai dengan jumlah swing voters paling sedikit. Pada PDIP, ada 69 persen pemilih loyal dan 30 persen swing, Gerindra 68 persen loyal dan 31 persen swing, PPP 65 persen loyal dan 35 persen swing, PKB 65 persen loyal dan 34 persen swing, PKS 64 persen loyal dan 35 persen swing, Golkar 60 loyal dan 36 persen swing, Nasdem 57 persen loyal dan 42 persen swing, Demokrat 56 persen loyal dan 42 persen swing, PAN 50 persen loyal dan 45 persen swing.
Saiful menyatakan bahwa berdasarkan data ini, menjadi logis jika PDIP dan Gerindra mendapatkan penambahan suara karena kebanyakan suara mereka tidak berpindah, bahkan mereka menampung suara partai lain yang berpindah.
Saiful memberi catatan tentang PPP yang memiliki pemilih loyal yang relatif besar. Walaupun pemilih loyal PPP besar, namun basis dukungan pada partai relatif kecil, yakni 4,5 persen pada Pemilu 2019.
Karena itu, logis jika elektabilitas PPP sekarang di bawah parliamentary threshold karena basisnya memang kecil. Swing voters PKB hampir sama dengan PPP, tapi basis mereka berdasarkan hasil Pemilu 2019 lebih besar.
Sementara swing voters terbanyak ada pada PAN, 45 persen. Ada 5 persen yang belum tahu. Jika yang belum tahu ditambahkan ke yang mengaku mungkin mengubah pilihan, total swing voters PAN saat ini adalah 50 persen.
“Separuh dari pemilih PAN tidak loyal, mereka bisa pergi atau tergantung apa PAN bisa meyakinkan mereka atau tidak. Kalau yang 50 persen ini tetap memilih PAN, artinya partai ini tidak mengalami kenaikan suara. Tapi kalau pemilih lemah itu tidak bisa dijaga, maka ada peluang PAN tidak lolos threshold,” jelas Saiful.
Fluktuasi Swing Voters
Dari tiga partai terbesar, fluktuasi swing voters sangat terbesar terlihat pada Gerindra. Pada November 2022, misalnya, swing voters Gerindra sempat menyentuh angka 65,6 persen. Sementara pada Golkar, ada kecenderungan swing voters pada partai ini mengalami peningkatan dalam 4 tahun terakhir, namun peningkatannya tidak terlalu ekstrim. Hal yang sama terjadi pada PDIP, dalam empat tahu mengalami kenaikan swing voters, namun dengan dinamika yang relatif rendah.
Sementara swing voters Demokrat mengalami peningkatan yang cukup tajam dari 16,7 persen pada Agustus 2019 menjadi 48 persen pada awal Mei 2023. Namun, Saiful menjelaskan, bahwa jika melihat bahwa perolehan suara Demokrat saat ini kurang lebih sama atau sedikit di bawah perolehan suara 2019, artinya selain ada yang keluar, pemilih baru juga masuk ke partai ini. Hal ini berbeda dengan PAN di mana yang keluar cukup banyak, tapi pemilih baru belum banyak yang masuk.
PAN, PPP, dan Nasdem juga memiliki fluktuasi swing voters yang sangat tinggi. Saiful memberi catatan bahwa Nasdem adalah partai pemegang kursi keempat terbesar di parlemen, namun sekarang belum mendapatkan pemulihan suara yang memadai. Partai ini pernah mendapatkan swing voters 78,1 persen pada Desember 2022.
Saiful menilai, fluktuasi yang besar menunjukkan bahwa, suara partai-partai masih bisa berubah tergantung bagaimana mereka bekerja.
