Secara keseluruhan dalam empat tahun terakhir (2019-2023), proporsi swing voters terbesar ada pada PAN 42,9 persen, disusul Nasdem 37,2 persen, Gerindra 35,8 persen, Demokrat 34,1 persen, PPP 32,8 persen, Golkar 27,7 persen, PKS 20,7 persen, dan yang terendah PDIP dan PKB masing-masing 20,5 dan 20,1 persen.
Saiful menjelaskan bahwa, ada kecenderung partai-partai lama, yang lahir pada Pemilu pertama Reformasi atau sebelumnya, memiliki swing voters yang relatif kecil dibanding partai yang lahir belakangan.
Namun hal ini, tidak terjadi pada PAN. PAN adalah juga partai yang lahir ketika Reformasi bergulir, namun tingkat swing votersnya tertinggi. Saiful menduga hal ini terkait dengan lahirnya partai baru yang memiliki latar belakang sosiologis yang relatif sama dengan PAN.
Selain itu, lanjut Saiful, partai-partai di Indonesia umumnya terkait dengan figur tokoh. PAN sebelumnya memiliki figur Amien Rais. Dan Amien Rais sekarang mendirikan partai baru. Ada kemungkinan sebagian pemilih PAN sekarang menunggu keputusan.
Aspek Demografi
Apakah fenomena swing voters yang besar ini terkait dengan fenomena pemilih rasional yang tumbuh di Indonesia? Saiful menjelaskan bahwa pemilih rasional salah satunya berhubungan dengan tingkat pendidikan. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih rasional dalam menentukan pilihan.
Rasionalitas pemilih juga terkait dengan latar belakang tempat tinggal, pemilih perkotaan cenderung lebih rasional karena lebih mudah mengakses informasi. Hal lain adalah usia. Di segmen mana pemilih yang loyal dan swing itu cenderung berada?
Berdasarkan data gabungan survei nasional 2019-2023, dari sisi gender, terlihat tidak ada perbedaan antara swing voters pada laki-laki dan perempuan. Karena itu aspek gender tidak punya pengaruh pada swing voters. Dari sisi desa-kota, variabel ini umumnya tidak memiliki pengaruh signifikan pada swing voters masing-masing partai, kecuali pada PKS. Ada 24 persen pemilih PKS di desa yang merupakan swing voters, sementara yang kota hanya 17 persen.
“Pemilih PKS di perkotaan lebih loyal dibanding yang perdesaan,” tambah Saiful.
Saiful melihat bahwa, karakteristik pemilih PKS memang dari kalangan kelas menengah, terpelajar, dan tinggal di kota. Karena itu di kota, pemilih PKS lebih sedikit yang swing. Yang potensial pindah adalah di perdesaan. Ini mengindikasikan, menurut Saiful, bahwa pemilih PKS di perdesaan kurang ideologis, lebih merupakan hasil mobilisasi.
Untuk sementara, karena Pemilunya masih jauh, kemungkinan PKS belum banyak bekerja di perdesaan. Sementara ada kemungkinan partai lain yang sudah bekerja bisa menarik suara PKS di perdesaan.
Dari sisi usia, pemilih swing PKB cenderung datang dari pemilih yang lebih senior. Ada 19 persen pemilih PKB yang berusia 55 tahun ke atas pemilih yang kemungkinan berubah pilihan, sementara yang kalangan 25 tahun ke bawah hanya 13 persen. Loyalis PKB cenderung datang dari kalangan yang lebih muda. Saiful melihat hal ini mencerminkan elit politik PKB yang cenderung lebih muda. Muhaimin Iskandar, misalnya, dari sisi usia lebih muda dari umumnya ketua-ketua umum partai.
Pemilih PDIP juga memiliki kecenderungan pemilih loyal di kalangan pemilih senior dibanding kalangan muda, namun selisihnya tidak begitu signifikan. Sementara swing voters Golkar di kalangan anak muda (25 tahun ke bawah) mencapai 34 persen dan yang berumur 55 ke atas sebanyak 18 persen.
“Regenerasi di kalangan pemilih Golkar tidak terjadi. Partai ini menua,” urai Saiful.
