Menurut Saiful, menunjukkan bahwa, Golkar tidak berhasil menggarap anak muda secara lebih baik. Jika Golkar ingin lebih kompetitif, maka tidak bisa dihindarkan Golkar harus bekerja lebih serius pada pemilih yang lebih muda.
Hal yang sama terjadi pada PPP, proporsi pemilih muda yang loyal lebih sedikit dibanding dengan yang tua. 37 persen pemilih PPP dari yang berusia 25 tahun ke bawah menyatakan kemungkinan mengubah pilihan, sementara yang berusia 55 tahun ke atas 28 persen. Demikian pula PAN, pemilih swing di kalangan usia 25 tahun ke bawah 47 persen, dan usia 55 tahun ke atas 32 persen.
Dari sisi pendidikan, ada perbedaan proporsi pemilih swing di Golkar. Pada kalangan berpendidikan tinggi, swing voters Golkar mencapai 31 persen, sementara yang berpendidikan SD ke bawah sebanyak 23 persen.
Sebaliknya dengan PKS, swing voters partai ini lebih banyak di kalangan berpendidikan SD ke bawah (24 persen) dibanding yang berpendidikan tinggi (15 persen).
Pola yang sama terjadi pada PPP dan PAN. Ada 31 persen pemilih berpendidikan SD PPP tidak loyal, sementara yang berpendidikan tinggi 25 persen. Pemilih bependidikan SD PAN yang kemungkinan mengubah pilihan sebanyak 45 persen, sementara yang berpendidikan tinggi 37 persen.
Sementara partai seperti PKB, Gerindra, PDIP, Nasdem, dan Demokrat tidak memperlihatkan pola yang berbeda dari sisi pendidikan terhadap proporsi swing voters partai-partai tersebut.
Saiful menyimpulkan bahwa, secara keseluruhan, swing voters di Indonesia besar dan itu memberi peluang bagi partai untuk membesarkan perolehan suaranya. Dari sisi demografi, swing voters tidak merata di antara semua partai. (ari)
