PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Olah Tempat Kejadian Perkara(TKP) di lokasi ledakan petasan Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo mengungkap fakta mengejutkan. Petugas kepolisian menemukan berbagai bahan baku peledak dan peralatan produksi petasan di kediaman Suminten pasca ledakan dahsyat yang terjadi pada Minggu sore (01/03/2026) petang.
Di tengah puing-puing bangunan yang rusak hingga 50%, petugas mengamankan sejumlah barang bukti yang mengindikasikan aktivitas perakitan petasan dan persiapan balon udara diantaranya 1 kg Sodium Benzoat (sudah terpakai sebagian), dua plastik belerang, serta botol bekas wadah aluminium powder; satu unit timbangan digital, gunting, korek gas, kawat pengikat, dan besi penyulut sumbu; 15 selongsong kosong dan satu selongsong yang sudah terisi serbuk siap ledak; satu unit balon udara setengah jadi lengkap dengan lingkar bambunya; dua botol bekas minuman keras turut ditemukan di sekitar titik ledakan.
Kasat Reskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, mengonfirmasi bahwa ledakan ini diduga kuat berasal dari aktivitas meracik bahan petasan. Pihaknya akan berkoordinasi dengan tim Gegana untuk memastikan jenis bahan peledak yang digunakan.
“Saat ini berdasarkan olah TKP masih kita dalami, dan mungkin dugaannya melakukan meracik bahan mercon. Nanti lebih dalamnya kita akan koordinasi dengan Gegana yang bisa memberikan kesimpulan bahwa itu memang benar-benar mesiu atau bahan petasan,” ujar AKP Imam Mujali di lokasi kejadian.
Kasatreskrim juga sangat menyayangkan kejadian ini, mengingat satu korban meninggal dunia masih berstatus pelajar SMP. Ia memberikan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat Ponorogo agar menghentikan tradisi berbahaya ini.
“Saya menghimbau kepada seluruh, khususnya masyarakat Ponorogo, sudahlah hindari membuat mercon, tidak ada untungnya. Terbukti dengan kejadian-kejadian yang sebelumnya dan saat ini ada korban meninggal dunia. Saya minta, saya menghimbau masyarakat Ponorogo kita jaga sama-sama Ponorogo menjadi aman,” tegasnya.
Ledakan pada pukul 17.00 WIB ini mengakibatkan kerusakan parah dan menelan korban sebagai berikut Rifa’i Kurnia Putra (15) Pelajar SMPN 2 Kauman. Meninggal dunia dengan kondisi luka berat di sekujur tubuh, termasuk patah tulang dan telapak tangan hancur.
Dua orang mengalami luka bakar yaitu Ahmad Fato’ani (20) mengalami luka bakar hingga 90% dirawat di RS Bantarangin dan Hindar Agusta (23) mengalami luka bakar sekitar 16%.
Hingga saat ini, garis polisi masih terpasang di Jalan Bohgede, Dukuh Cuwet, guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

