Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL PONOROGO

Rayakan Pengakuan UNESCO, Ribuan Seniman Reog Gelar Tadarus Budaya di Alun-Alun Ponorogo

Rayakan Pengakuan UNESCO, Ribuan Seniman Reog Gelar Tadarus Budaya di Alun-Alun Ponorogo

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Ribuan seniman reog dan masyarakat tumpah ruah di depan Paseban Alun-Alun Ponorogo pada Jumat (6/3/2026) malam. Mereka menggelar “Tadarus Budaya” sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan Reyog Ponorogo masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda atau Intangible Cultural Heritage (ICH) oleh UNESCO.

Perhelatan akbar yang berlangsung sejak pukul 20.30 WIB hingga menjelang tengah malam ini melibatkan sedikitnya 200 dadak merak dan 90 grup paguyuban Reog. Sekitar 2.000 orang memadati lokasi untuk menyaksikan ritual budaya dan pementasan kolosal tersebut.

Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, hadir langsung memimpin prosesi pemotongan tumpeng syukuran. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh elemen masyarakat yang telah berjuang mempertahankan jati diri budaya Ponorogo di kancah internasional.

“Acara malam ini merupakan ajang silaturahmi antar-seniman Reyog sekaligus bentuk rasa syukur dan terima kasih atas dukungan masyarakat hingga kesenian Reyog resmi masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO,” ujar Lisdyarita di hadapan ribuan seniman.

Ia juga menekankan pentingnya peran kolektif dalam pencapaian ini. “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam perjuangan ini, mulai dari para seniman, budayawan, pemerintah, hingga seluruh masyarakat Ponorogo. Semoga kegiatan ini dapat melestarikan tradisi serta meregenerasi seniman Reyog ke depan,” tambahnya.

Kegiatan ini diawali dengan ritual Suguh Poro Leluhur yang dipimpin oleh tokoh sepuh Reyog, Hari Purnomo atau Mbah Pur. Puncak acara dimeriahkan dengan penampilan bergantian 18 dadak merak, disusul pentas Jathil dan Bujangganong yang memukau penonton. Selain syukuran UNESCO, momen ini juga menandai pembukaan Pasar Malam Alun-Alun Ponorogo.

Sejarah mencatat, gerakan Tadarus Budaya ini bermula dari aksi protes serentak para seniman pada Ramadhan 2022 lalu. Kala itu, muncul klaim sepihak dari negara tetangga yang memicu gelombang desakan agar Pemerintah Indonesia segera mendaftarkan Reyog ke UNESCO.

Perjuangan panjang tersebut membuahkan hasil manis pada 3 Desember 2024 di Asunción, Paraguay. Saat itu, UNESCO resmi menetapkan Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda kategori In Need of Urgent Safeguarding (Membutuhkan Perlindungan Mendesak), yang kini memperkuat posisi Reyog sebagai warisan dunia asli Indonesia.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita