Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Buntu dan Tak ada Titik Temu Nelayan Gresik Mengadu ke DPRD Jatim, Minta Ganti Rugi Rumpon Tertabrak Kapal

Buntu dan Tak ada Titik Temu Nelayan Gresik Mengadu ke DPRD Jatim, Minta Ganti Rugi Rumpon Tertabrak Kapal

SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Merasa dirugikan dan tak menemukan titik temu, nelayan pembudidaya kerang hijau di Kabupaten Gresik mendatangi DPRD Jawa Timur. Mereka mengadukan kerusakan rumpon dan area budidaya akibat tertabrak kapal yang lepas kendali pada awal Januari lalu. Para nelayan ini berharap ada ganti rugi yang sesuai dengan kerugian yang mereka alami akibat kejadian ini.

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Abdul Qodir, usai menerima para nelayan itu mengatakan, bahwa insiden tersebut terjadi sekitar 10 Januari 2026. Sebuah kapal yang sebelumnya ditarik kapal lain diduga terlepas lalu menghantam rumpon milik nelayan.

“Yang terkena itu rumpon-rumpon atau tempat budidaya kerang hijau milik nelayan,” kata Abdul Qodir di DPRD Jatim.

Meski sudah dilakukan pertemuan dan mediasi antara nelayan dan pihak pemilik kapal, sayangnya hingga saat ini belum ada kesepakatan soal nilai ganti rugi.

Merasa belum juga melihat ada penyelesaian, para nelayan memilih melapor ke DPRD Jatim. Harapannya ada kepastian kompensasi atas kerugian yang dialami.

“Kesimpulan sementara, kami serahkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur untuk segera melakukan mediasi dengan PT pemilik kapal yang menabrak rumpon tersebut,” ujarnya.

Dari perhitungan awal para nelayan, kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp800 juta. Meski begitu, DPRD meminta agar angka tersebut diverifikasi oleh tim dari DKP Jatim agar diperoleh nilai yang rasional.

“Nanti dihitung kembali oleh DKP bersama timnya. Setelah itu dimediasi. Yang penting jangan terlalu lama, kasihan para nelayan,” tegasnya.

Politisi itu juga menilai kejadian ini menjadi peringatan penting bagi pengelolaan ruang laut di wilayah Pantura Jawa Timur. Selama ini area budidaya nelayan kerap berada di jalur mobilitas kapal-kapal perusahaan besar.

Akibatnya, ketika terjadi insiden seperti kapal terlepas dari penariknya, rumpon nelayan menjadi pihak yang paling terdampak.

“Harus ada pembagian ruang laut yang jelas. Mana yang untuk budidaya nelayan, mana yang untuk jalur mobilitas kapal perusahaan,” tandasnya.

Ia mendorong pemerintah daerah melalui DKP Jatim melakukan pembinaan sekaligus pengawasan agar aktivitas budidaya nelayan dan lalu lintas kapal di laut dapat berjalan berdampingan tanpa saling merugikan. Nang

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita