SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Komisi E DPRD Jawa Timur mengingatkan semua pihak waspada dengan masih tingginya kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia yang saat ini menembus angka sekitar 1 juta kasus.
Alarm serius ini diungkapkan anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr Benjamin Kristianto. Dia mengingatkan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan.
“Ini bukan angka kecil. Satu juta kasus TBC menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi ancaman nyata yang harus ditangani secara serius dan terstruktur,” tegas Benjamin Sabtu (11/4/2026).
Tingginya angka TBC ini dipicu oleh tidak banyak faktor klasik yang belum tertangani sepenuhnya mulai dari kepadatan penduduk, sanitasi yang belum merata, hingga rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini.
Ia menekankan, pendekatan penanganan TBC tidak bisa lagi bersifat sektoral. Diperlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga keterlibatan aktif masyarakat.
“Penanganan TBC tidak cukup hanya di sektor kesehatan. Harus ada kolaborasi dengan sektor lain, termasuk perbaikan lingkungan, edukasi masyarakat, dan penguatan layanan kesehatan di tingkat bawah,” ujarnya.
Di Jawa Timur sendiri, Benjamin mengingatkan agar pemerintah daerah tidak lengah. Dengan jumlah penduduk yang besar, potensi penyebaran TBC sangat tinggi jika tidak diantisipasi dengan langkah konkret.
Ia pun mendorong penguatan program skrining aktif, terutama di wilayah dengan risiko tinggi. Selain itu, ketersediaan obat dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan juga menjadi faktor krusial yang harus diawasi.
“Jangan sampai pasien putus obat. Itu justru berbahaya karena bisa memicu resistensi. Maka pendampingan dan pengawasan harus diperkuat,” tandasnya.
Lebih jauh, ia berharap momentum tingginya angka kasus ini menjadi titik balik bagi pemerintah untuk mempercepat upaya eliminasi TBC, sejalan dengan target nasional.
“Ini harus jadi alarm bagi kita semua. Jangan sampai TBC terus menjadi beban kesehatan yang berkepanjangan di Indonesia,” pungkasnya. Nang

