Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BANDUNG

Kisah Pilu Anak 11 Tahun Makan Rumput di Bandung Barat

Kisah Pilu Anak 11 Tahun Makan Rumput di Bandung Barat

BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM : Kisah memilukan seorang anak berusia 11 tahun yang terpaksa makan rumput di Kabupaten Bandung Barat menjadi sorotan utama dalam aksi unjuk rasa ribuan buruh yang digelar DPC K SPSI setempat, Senin (27/4/2026).

Cerita tersebut diungkap langsung oleh Koordinator Aksi, Kiky Saputra, di hadapan jajaran pemerintah daerah saat audiensi berlangsung. Ia menyebut kondisi itu sebagai potret nyata kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di Bandung Barat.

Menurut Kiky, anak tersebut tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai pemulung, setelah ditinggal ibunya yang menikah lagi. Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, anak itu bahkan disebut memiliki kebiasaan makan rumput di sekitar tempat sampah.

“Ini sangat miris. Anak 11 tahun sampai makan rumput. Kami minta pemerintah hadir dan segera mengambil tindakan,” ujar Kiky dalam orasinya.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan bahwa anak tersebut memiliki keterbatasan fisik, yakni tuna rungu dan tuna wicara, sehingga membutuhkan perhatian khusus, termasuk akses pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kami mohon, tolong sekolahkan anak itu ke SLB. Jangan dibiarkan. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Kisah tersebut menjadi simbol dari berbagai persoalan sosial yang disuarakan dalam aksi tersebut. Ribuan buruh yang hadir juga membawa spanduk kecaman dan menyampaikan sejumlah tuntutan, mulai dari penghentian PHK, penghapusan sistem kerja outsourcing, hingga penolakan kebijakan yang dinilai merugikan pekerja.

Selain itu, massa juga menyoroti dugaan praktik ketenagakerjaan yang tidak adil, termasuk skema perekrutan melalui yayasan yang berpotensi merugikan pekerja karena upah yang diterima di bawah standar.

Aksi tersebut diterima oleh Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat, Wakil Bupati, serta perwakilan Sekretariat DPRD. Meski Bupati tidak dapat hadir karena agenda di tingkat provinsi, kehadiran pemerintah daerah tetap diapresiasi.

Namun demikian, Kiky menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan kehadiran simbolis, melainkan langkah nyata.

“Jangan hanya slogan ‘Bandung Barat Amanah’. Buktikan dengan tindakan. Masih banyak masyarakat yang hidup dalam kondisi memprihatinkan,” pungkasnya.

Ia berharap, pemerintah segera menindaklanjuti temuan tersebut dan memberikan solusi konkret, khususnya bagi anak yang menjadi perhatian dalam aksi tersebut. (Fey)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita