PAMEKASAN, KANALINDONESIA.COM: Guna menyikapi banyaknya kasus kekerasan seksual serta Asusila kepada perempuan dan anak di wilayah Kabupaten Pamekasan, Rabu pagi 06 Mei 2026, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Pamekasan, , menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor
Kegiatan yang mengusung tema besar “Pamekasan Darurat Moral: Alarm Darurat Kasus Pelecehan serta Asusila pada Perempuan dan Anak” ini melibatkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari Tokoh Masyarakat, Legislatif, Yudikatif, Eksekutif, Kemenag, serta Mahasiswa dan para Pelajar Pamekasan.
Dikegiatan forum diskusi itu, tampak terlihat sejumlah pemateri yang kompeten di bidangnya duduk berdampingan untuk membedah akar permasalahan moral dan hukum terkait perlindungan perempuan dan anak. Mereka sepakat menyatukan komitmen untuk menabuh genderang perlawanan terhadap Asusila.
Anggota DPR RI, Ibu Hj. Ansari yang turut hadir langsung dalam kegiatan tersebut dalam sambutannya menyatakan bahwa persoalan ini sudah betul-betul menjadi darurat moral yang harus disikapi bersama secara serius untuk ditemukan solusii penyelesaiannya secara kongkret.
Menurutnya, peran aktif Pemerintah dari semua sektor baik di tingkat pusat maupun ditingkat daerah sangatlah penting dalam bertanggung jawab untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami selaku Anggota DPR RI tentunya akan melakukan pendampingan terhadap para korban. Kasus ini kan seluruh Indonesia yaa, jadi untuk prihal ini kami akan berkomunikasi dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) agar persoalan yang terjadi di seluruh Indonesia khususnya di Madura ini benar-benar ditangani secara utuh dan tidak hanya setengah-setengah.” Kata Hj. Ansari, Anggota DPR RI. Rabu, (06/05/2026).
Selaras dengan apa yang di sampaikan oleh Hj. Ansari, Anggota DPR RI, Ketua DPC GMNI Pamekasan, Syaifus Suhada dalam sambutannya pun menekankan bahwa jargon “Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan aksi nyata untuk mengawal isu-isu kemanusiaan di Bumi Gerbang Salam.
“Kami melihat adanya urgensi besar. Pamekasan sedang berada di titik alarm darurat terkait kasus asusila. GMNI hadir untuk memfasilitasi dialog ini agar ditemukan solusi konkret, baik dari sisi pengawasan sosial maupun penegakan hukum,” ujar Syaifus Suhada, Ketua DPC GMNI Pamekasan.
Kegiatan FGD yang juga melibatkan kalangan mahasiswa serta para siswa tingkat SMA se-Pamekasan tersebut, dilakukan karena kelompok usia remaja dianggap paling rentan sekaligus menjadi kunci utama dalam memutus rantai pelecehan seksual melalui edukasi dini.
Dalam diskusi tersebut, beberapa poin penting yang dibahas meliputi: Penguatan Moralitas: Membangun kembali nilai-nilai etika di lingkungan keluarga dan sekolah.
Hal ini, juga untuk mendorong pemerintah daerah agar lebih responsif terhadap laporan kekerasan seksual. Selain itu, juga memberikan pemahaman kepada korban agar berani melapor tanpa rasa takut akan stigma negatif.

