PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo bersama Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung melakukan pemantauan intensif di lokasi rawan longsor, yakni Desa Banaran, Kecamatan Pulung dan Desa Talun Kecamatan Ngebel.
Langkah mitigasi ini dilakukan guna mengantisipasi potensi gerakan tanah susulan meski wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau.
Tim gabungan yang terdiri dari empat personel PVMBG dan lima personel BPBD melakukan pengecekan mendalam selama tiga hari.
Pemantauan ini mencakup pengamatan visual, penelitian struktur tanah, hingga penggunaan teknologi drone untuk memetakan kondisi retakan dari udara.
Sekretaris BPBD Ponorogo, Ismoyo, menjelaskan bahwa hasil pemantauan di Desa Banaran menunjukkan kondisi tanah yang cukup keras namun memiliki kontur yang lembut. Hal ini memicu munculnya retakan-retakan yang berpotensi membahayakan permukiman di bawahnya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menutup retakan-retakan tanah tersebut dengan tanah biasa agar air hujan tidak masuk ke dalam celah. Jika terjadi curah hujan dengan intensitas tinggi, kami harap warga segera mengungsi,” ujar Ismoyo saat memberikan keterangan pada Selasa (12/5/2026).
Ismoyo menambahkan bahwa terdapat sedikitnya tiga rumah di Desa Banaran yang berada dalam posisi terancam jika terjadi longsoran susulan. Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, pihak BPBD berencana membuat jalur air baru agar aliran air tidak memperparah kondisi retakan tanah.
Sementara itu, kondisi di Desa Talun terpantau relatif lebih stabil meski sisa-sisa material longsor berupa lumpur dan bebatuan besar masih terlihat.
Ismoyo menyebutkan bahwa vegetasi atau tanaman di lokasi tersebut saat ini masih mampu menahan pergerakan batu-batu besar. Namun, terdapat empat hingga lima rumah yang tetap dalam pemantauan karena posisinya yang berisiko.
Pihak BPBD juga menekankan pentingnya reboisasi di lahan-lahan bekas longsor sebagai solusi permanen untuk memperkuat struktur tanah. Meskipun saat ini pergerakan tanah cenderung berhenti karena curah hujan yang minim, status kedua wilayah tersebut tetap berada dalam pengawasan ketat.
“Kedua lokasi ini memang sudah lama masuk dalam zona merah. Kami terus memantau perkembangannya, apakah gerakan tanah tersebut bertambah atau sudah berhenti, sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana secara berkelanjutan,” pungkas Ismoyo.

