BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM : Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Rabu (20/5/2026) dinilai tidak lebih dari seremoni tahunan jika kondisi pendidikan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih berada dalam situasi memprihatinkan.
Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung Barat, Deden Abdul Hamid Alhamdani, menegaskan bahwa pemerintah tidak seharusnya sibuk dengan pidato dan slogan kebangkitan, sementara ribuan siswa masih belajar di ruang kelas yang rusak dan tidak aman.
“Jangan bicara tentang menjaga tunas bangsa jika anak-anak di pelosok masih belajar di bawah atap yang sewaktu-waktu bisa ambruk,” tegas Deden dalam opini kritisnya.
Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa dunia pendidikan di Bandung Barat sedang menghadapi kondisi darurat. Data menunjukkan lebih dari 75 persen ruang kelas di KBB mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat.
Tercatat sebanyak 1.079 ruang kelas rusak berat, 1.266 rusak sedang, dan 1.530 rusak ringan. Totalnya, lebih dari 3.800 ruang kelas membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Kondisi ini diperparah dengan adanya 272 sekolah tingkat SD dan SMP yang hingga kini belum memiliki kepala sekolah definitif. Situasi tersebut dinilai mencerminkan lemahnya tata kelola pendidikan.
“Sekolahnya hampir roboh, pemimpinnya pun tidak ada. Ini bukan tanda kebangkitan, tetapi bukti bahwa sistem pendidikan kita sedang berjalan tanpa arah,” ujarnya.
PMII KBB juga menyoroti keterkaitan antara buruknya pendidikan dengan tingginya angka kemiskinan di wilayah Bandung Barat. Menurut Deden, anak-anak dari keluarga miskin di daerah terpencil seperti Gununghalu dan Rongga akan semakin sulit keluar dari lingkaran kemiskinan jika akses pendidikan yang layak terus diabaikan.
Ia menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh dibebankan kepada masyarakat melalui sumbangan ataupun CSR. Menyediakan sekolah yang layak adalah tanggung jawab negara dan pemerintah daerah.
PMII KBB mendesak Pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera menyusun Emergency Action Plan untuk mempercepat rehabilitasi ruang kelas rusak serta melantik kepala sekolah definitif di seluruh sekolah yang masih kosong.
“Bagi kami, kebangkitan sejati tidak diukur dari meriahnya upacara dan tepuk tangan di podium. Kebangkitan sesungguhnya adalah ketika seorang anak miskin di pelosok dapat belajar dengan aman tanpa takut tertimpa runtuhan atap sekolahnya,” pungkas Deden. (Fey)

