BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM : Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung Barat, Kamis (28/5/2026), menyoroti persoalan lingkungan yang terjadi di TPPAS Sarimukti sebagai bentuk nyata krisis ekologis akibat ulah manusia dan lemahnya tata kelola lingkungan.
Dalam pernyataannya,Aktivis PMII KBB Deden Abdul Hamid menegaskan bahwa persoalan Sarimukti tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan teknis pengelolaan sampah.
Menurutnya, kondisi gunungan sampah, pencemaran udara, hingga kebakaran yang berulang di kawasan tersebut merupakan simbol krisis kesadaran ekologis dan kegagalan pembangunan yang berkelanjutan.
“Persoalan Sarimukti bukan hanya tentang sampah, tetapi cerminan budaya konsumtif, lemahnya tata kelola, serta minimnya keberpihakan terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Deden juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menyebut bahwa keteraturan alam merupakan bagian dari tujuan syariat. Karena itu, menjaga lingkungan menurutnya bukan sekadar isu aktivisme modern, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Ia menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya menghancurkan ekosistem, tetapi juga mengancam kehidupan sosial masyarakat, terutama warga sekitar yang terdampak pencemaran udara maupun gangguan kesehatan akibat persoalan sampah.
Dalam perspektif Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII, kata Deden, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di muka bumi yang wajib menjaga harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam.
Karena itu, ia menilai krisis Sarimukti harus dibaca sebagai krisis moral pembangunan dan krisis tanggung jawab sosial.
“Spirit Hablum minal Alam mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam harus bersifat etis, bukan eksploitatif. Alam bukan objek yang dihabiskan demi kepentingan ekonomi sesaat,” katanya.
Lebih lanjut, Deden menegaskan bahwa kader PMII memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat, mengkritisi kebijakan yang merusak lingkungan, hingga mendorong tata kelola sampah yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada diskusi intelektual semata, melainkan harus hadir sebagai gerakan moral dan sosial yang berpihak pada keberlangsungan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
“Sebab ketika bumi rusak, yang pertama merasakan dampaknya adalah rakyat kecil. Dan ketika lingkungan dihancurkan atas nama pembangunan, maka yang dipertaruhkan sesungguhnya adalah masa depan peradaban,” pungkasnya. (Fey)

