Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Gresik Masuk Pesisir yang Air Lautnya Terus Naik, Samwil Dukung Giant Sea Wall Segera Dilakukan Kajian Serius : “Penting untuk lindungi warga pesisir”

Gresik Masuk Pesisir yang Air Lautnya Terus Naik, Samwil Dukung Giant Sea Wall Segera Dilakukan Kajian Serius : “Penting untuk lindungi warga pesisir”

SURABAYA KANALINDONESIA.COM – Prediksi naiknya air laut di pesisir Jawa mulai dari Banten hingga Gresik mendapat perhatian dari sejumlah pihak, salah satunya anggota DPRD Jatim dari dapil Lamongan Gresik, Samwil.

Samwil mengaku sudah mendengar bahwa saat ini posisi air laut di Gresik. Disepanjang wilayah ini diprediksi ada ancaman banjir rob, abrasi, dan penurunan permukaan tanah, sehingga perlu diwaspadai dan mendapat perhatian serius dari pemerintah. Solusi yang terbaru adalah menyiapkan proyek Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Raksaa.

Politisi Partai Demokrat itu mengaju mendukung pemerintah segera mengkaji dengan serius agar ancaman yang sudah diprediksi ini bisa diantisipasi sejak dini.
Selain itu Samwil melihat saat ini yang justru terjadi dan layak segera dipikir adalah terus meningkatnya permukaan air laut akibat perubahan iklim global.

“Saya melihat bukan semata-mata daratannya yang turun, tapi air lautnya yang terus naik. Banyak faktor penyebabnya, salah satunya mencairnya es di kawasan kutub yang menyebabkan permukaan laut meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Samwil, Rabu (17/6/2026).

Samwil yang juga Ketua DPC Demokrat Gresik ini, mencontohkan kondisi di Semarang yang saat ini menghadapi persoalan rob cukup serius. Menurutnya, sejumlah kawasan di kota tersebut telah mengalami perbedaan elevasi yang signifikan dengan permukaan laut sehingga membutuhkan sistem pompanisasi untuk mengendalikan genangan.

“Di Semarang itu sudah sangat terasa dampaknya. Air yang masuk ke daratan harus dipompa kembali ke laut. Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin ke depan wilayah pesisir Jawa Timur seperti Surabaya, Pasuruan, Probolinggo hingga Banyuwangi menghadapi persoalan serupa,” katanya.

Samwil menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto telah menugaskan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk mengkaji proyek Giant Sea Wall sebagai bagian dari strategi perlindungan kawasan pesisir Indonesia.

Meski merupakan kader Partai Demokrat yang dipimpin AHY, Samwil menegaskan dukungannya terhadap kajian tersebut didasarkan pada kepentingan masyarakat, bukan faktor politik.

“Saya mendukung karena ini menyangkut keselamatan masyarakat dan masa depan wilayah pesisir. Bukan karena AHY Ketua Umum Partai Demokrat, tetapi karena persoalan ini memang harus dicari solusinya,” tegasnya.

Selain ancaman banjir rob, Samwil juga menyoroti dampak intrusi air laut yang mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah pesisir, termasuk kawasan Lamongan dan Gresik. Menurutnya, masuknya air laut melalui aliran sungai dapat meningkatkan kadar garam di lahan pertanian dan tambak.

“Kalau air laut terus masuk ke daratan, tanah dan sumber air menjadi asin. Ini berbahaya bagi ketahanan pangan kita. Padi tidak akan tumbuh optimal jika kadar garam dalam air dan tanah terlalu tinggi,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan tanggul laut nantinya juga harus disertai teknologi pendukung seperti bendungan gerak atau sistem pintu air yang mampu mengatur keluar masuknya air laut dan air sungai tanpa mengganggu aktivitas nelayan.

Menurut Samwil, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan air hujan. Selama ini, kata dia, sebagian besar air hujan langsung mengalir ke laut tanpa dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan pertanian maupun cadangan air bersih.

“Air adalah kekayaan yang luar biasa. Jangan sampai seluruh air hujan yang turun ke daratan langsung dibuang ke laut. Harus ada sistem yang bisa menampung dan memanfaatkannya untuk petani, petambak, maupun kebutuhan masyarakat,” katanya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita