Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NTT

Gempa Susulan Flores M7,7 Capai 11.630 Kejadian hingga 3 September 2026

Gempa Susulan Flores M7,7 Capai 11.630 Kejadian hingga 3 September 2026

FLORES, KANALINDONESIA.COM: Aktivitas gempa bumi susulan setelah gempa utama berkekuatan M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus berlangsung. Berdasarkan pemutakhiran data hingga Kamis,(3/9/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat 11.630 gempa susulan di kawasan tersebut.

Dari jumlah tersebut, 168 gempa susulan dirasakan masyarakat, sedangkan 36 kejadian memiliki magnitudo di atas M5,0. Gempa susulan terbesar mencapai M6,2, sementara yang terkecil tercatat M0,9.

Data tersebut menunjukkan aktivitas kegempaan di wilayah Flores masih cukup tinggi setelah gempa utama yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat ribuan gempa susulan dan menyatakan aktivitas tersebut dapat berlangsung selama beberapa pekan.

Gempa Utama Flores M7,7 Terjadi pada 15 Agustus

BMKG mencatat gempa utama Flores terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB. Hasil pemutakhiran analisis BMKG menetapkan magnitudonya M7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.

Episenter gempa berada di laut pada koordinat sekitar 8,41 Lintang Selatan dan 121,39° Bujur Timur, atau sekitar 30 kilometer timur laut Kabupaten Nagekeo, NTT.

BMKG mengidentifikasi mekanisme sumber gempa sebagai sesar naik (thrust fault) pada zona Flores Back-arc Thrust. Karakteristik tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat gempa utama memiliki potensi membangkitkan tsunami karena pergerakan vertikal dasar laut.

Pada saat kejadian, BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami berdasarkan hasil pemodelan. Peringatan dini pertama keluar sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa, sedangkan peringatan kedua menyusul sekitar 11 menit setelah kejadian.

Jumlah Gempa Susulan Terus Bertambah

Jumlah gempa susulan menunjukkan peningkatan signifikan sejak gempa utama terjadi.

Pada 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 2.119 gempa susulan dengan magnitudo antara M1,3 hingga M6,2. Saat itu, sebanyak 24 gempa memiliki magnitudo di atas M5,0, sementara 70 gempa dirasakan masyarakat.

Sehari kemudian, BMKG melaporkan jumlah gempa susulan mencapai 2.768 kejadian. Selanjutnya, hingga 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, jumlahnya meningkat menjadi 4.258 kejadian, dengan 31 gempa berkekuatan di atas M5,0 dan 118 gempa dirasakan masyarakat.

Dengan pemutakhiran hingga 3 September 2026, jumlah tersebut kini mencapai 11.630 gempa susulan.

Artinya, dibandingkan catatan 21 Agustus sebanyak 4.258 kejadian, terjadi tambahan sekitar 7.372 gempa hingga pukul 05.00 WIB pada 3 September.

Gempa Susulan Terbesar M6,2

Data pemantauan BMKG menunjukkan M6,2 menjadi magnitudo terbesar yang tercatat dalam rangkaian gempa susulan tersebut. Sementara itu, rentang magnitudo keseluruhan mencapai M0,9 hingga M6,2.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah terjadi gempa utama. Aktivitas gempa susulan umumnya lebih banyak terjadi pada periode awal setelah gempa utama, kemudian secara bertahap dapat mengalami penurunan, meskipun gempa susulan yang cukup kuat masih mungkin terjadi.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Masyarakat juga diminta tidak mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.

Masyarakat yang berada di dalam bangunan terdampak gempa perlu memastikan kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya. Bangunan yang mengalami kerusakan atau retakan sebaiknya tidak digunakan sampai mendapat kepastian mengenai keamanannya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita