Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

Menkes Imbau Warga Tak Panik Hadapi Abu Vulkanik, Jaga Pernapasan, Mata, dan Kulit

Menkes Imbau Warga Tak Panik Hadapi Abu Vulkanik, Jaga Pernapasan, Mata, dan Kulit

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Menteri Kesehatan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik untuk tidak panik dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak debu vulkanik bagi kesehatan. Kementerian Kesehatan menekankan tiga bagian tubuh yang paling perlu mendapat perlindungan, yakni saluran pernapasan, mata, dan kulit.

Menteri Kesehatan mengatakan masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah selama kondisi lingkungan masih dipenuhi abu vulkanik. Jika harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker dan perlengkapan pelindung lainnya.

“Kami pesankan kepada masyarakat agar tidak panik. Ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama, pertama dari sisi kesehatan abu vulkanik ini ada tiga dampaknya, yaitu pernapasan, mata, dan kulit,” ujar Menteri Kesehatan.

Menurutnya, abu vulkanik mengandung partikel yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan. Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak dianjurkan tetap berada di dalam rumah.

Apabila masyarakat harus melakukan aktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan debu vulkanik. Warga yang mulai mengalami gangguan pernapasan diminta segera mendatangi Puskesmas terdekat.

Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan dukungan medis, termasuk oksigen konsentrator, untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

Lindungi Mata dari Debu Vulkanik

Selain saluran pernapasan, masyarakat juga perlu melindungi mata. Partikel abu vulkanik dapat menyebabkan mata terasa gatal, merah, hingga mengalami iritasi.

Menkes mengimbau masyarakat menggunakan kacamata apabila harus keluar rumah. Penggunaan kacamata dapat membantu mengurangi kemungkinan partikel abu masuk langsung ke mata.

Jika abu vulkanik sudah masuk ke mata, masyarakat diminta tidak menguceknya. Mata sebaiknya segera dibersihkan menggunakan air secara hati-hati.

“Kalau ternyata sudah masuk ke mata, pastikan jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan datang ke Puskesmas. Kami sudah menyiapkan obat tetes mata,” kata Menteri Kesehatan.

Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak untuk menyiapkan obat tetes mata bagi masyarakat yang mengalami iritasi akibat paparan abu vulkanik.

Kulit Juga Perlu Dibersihkan

Paparan abu vulkanik juga dapat memicu gangguan pada kulit. Karena itu, masyarakat yang kembali dari luar rumah diminta segera membersihkan tubuh dengan air.

Menkes mengingatkan warga agar membersihkan tubuh secara hati-hati karena abu vulkanik dapat mengandung partikel yang berpotensi menyebabkan iritasi.

“Kalau sudah kembali ke rumah, pastikan dibersihkan dengan air. Bersihkan dengan hati-hati karena mungkin saja ada beberapa partikelnya yang tajam,” ujarnya.

Masyarakat yang mengalami gatal-gatal atau gangguan pada kulit setelah terpapar abu vulkanik diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas. Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan salep untuk menangani keluhan kulit akibat paparan abu.

Kemenkes Aktifkan Pusat Krisis Kesehatan

Selain memberikan imbauan kepada masyarakat, Kementerian Kesehatan mengaktifkan sistem pemantauan dan koordinasi kesehatan di wilayah terdampak.

Kementerian Kesehatan akan memperkuat koordinasi melalui Emergency Center bersama dinas kesehatan di kabupaten dan kota terdampak. Langkah tersebut bertujuan memantau perkembangan situasi dan memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan dapat segera ditangani.

Menkes mengatakan pihaknya juga akan menerbitkan surat edaran sebagai panduan bagi petugas kesehatan di daerah terdampak.

“Kita segera akan mengeluarkan surat edaran untuk memberikan guidance yang rinci terhadap para petugas tenaga kesehatan di seluruh kabupaten kota yang terdampak,” katanya.

Koordinasi rutin antara pusat dan daerah juga akan dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita