TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Krisis air bersih semakin meluas di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, seiring berlangsungnya musim kemarau. Hingga 31 Agustus 2026, kekeringan berdampak terhadap 7.725 kepala keluarga (KK) atau 18.915 jiwa yang tersebar di 34 desa pada 11 kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek terus mengirimkan bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air. Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 1.209.000 liter air bersih telah didistribusikan melalui 258 rit pengiriman.
Distribusi tersebut telah menjangkau 29 desa di sembilan kecamatan. Sementara itu, berdasarkan data dampak kekeringan, terdapat 34 desa di 11 kecamatan yang masuk wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Trenggalek sekaligus Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Stefanus Triadi Admono, mengatakan data wilayah terdampak dan cakupan distribusi air merupakan dua hal yang berbeda.
“Data kekeringan merupakan keseluruhan wilayah terdampak, sedangkan distribusi air bersih sudah dilakukan di 29 desa pada sembilan kecamatan,” ujar Stefanus Triadi Admono.
Menurut Triadi, distribusi air dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. Petugas terus memantau kondisi sumber air agar bantuan dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
Panggul Jadi Wilayah dengan Dampak Terluas
Kecamatan Panggul menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak kekeringan. BPBD mencatat terdapat 12 desa di Kecamatan Panggul yang mengalami dampak kekeringan.
Selain Panggul, kekeringan juga terjadi di sejumlah kecamatan lain, antara lain Dongko, Tugu, Kampak, Pogalan, Watulimo, Gandusari, Trenggalek, Bendungan, Pule dan Suruh.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan di Trenggalek tidak hanya terjadi pada satu kawasan. Penyusutan sumber air terjadi di berbagai wilayah sehingga kebutuhan distribusi air bersih terus meningkat.
Dari total air yang telah disalurkan, Kecamatan Panggul menerima porsi terbesar, yakni sekitar 740.000 liter melalui 156 rit pengiriman.
Sementara Kecamatan Dongko menerima sekitar 136.000 liter, sedangkan Kecamatan Bendungan mendapatkan sekitar 84.000 liter.
Ribuan Warga Bergantung pada Bantuan Air
Kekeringan membuat sebagian masyarakat harus menghadapi keterbatasan sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sumur warga yang mengalami penurunan debit maupun sumber mata air yang mulai mengering membuat masyarakat membutuhkan pasokan air dari pemerintah.
Kondisi tersebut tidak hanya menyangkut kebutuhan untuk minum dan memasak. Ketersediaan air juga berkaitan langsung dengan kebutuhan sanitasi, kebersihan rumah tangga dan aktivitas masyarakat.
Stefanus Triadi Admono, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Trenggalek, menegaskan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kekeringan.
“Kami terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan dan menyesuaikan distribusi bantuan air bersih dengan kebutuhan masyarakat terdampak,” kata Triadi.
Distribusi air menggunakan armada tangki dilakukan secara bertahap. Petugas juga berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah desa untuk memastikan bantuan sampai kepada warga yang membutuhkan.
Lima Desa Belum Masuk Distribusi Air
Berdasarkan data hingga 31 Agustus 2026, dari 34 desa yang mengalami dampak kekeringan, baru 29 desa yang telah menerima distribusi air bersih.
Artinya, masih terdapat lima desa terdampak yang belum tercatat menerima distribusi pada periode tersebut.
Perbedaan antara jumlah desa terdampak dan desa penerima distribusi menunjukkan bahwa penanganan kekeringan masih berlangsung secara bertahap.
BPBD mengutamakan wilayah yang mengalami kondisi sumber air paling kritis dan membutuhkan penanganan segera.
Dampak Kemarau Tak Hanya Krisis Air

