BANGKALAN, KANAL INDONESIA.COM: Penyelenggaraan lomba mewarna dalam rangka menyambut Hari Jadi Kabupaten Bangkalam ke – 495 yang digelar di Pendopo Pratanu, digelar selama 2 hari. Tepatnya dari tanggal 9 -10 Oktober 2026 silam, hingga kini masih menyisakan masalah dan berbuntut panjang.
Kuat dugaan, lomba mewarnai di kalangan anak – anak yang seharusnya menjadi ajang kembangkan kreativitas, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memberikan pengalaman positif. Sangat disesalkan keobyektivitasan dewan juri khususnya yang menyangkut transparansi dalam proses penilaian lomba mewarnai tersebut terkesan tertutup. Sehingga banyak menimbulkan protes.
Padahal kriteria penilaian yang jelas, objektivitas dewan juri, serta keterbukaan terhadap pertanyaan peserta maupun orang tua diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan kegiatan.
Menurut pendapat salah satu orangtua (ortu) peserta tingkat SD yang emoh namanya ditulis. Mengatakan ketidakterbukaan cara memberi penilaian yang dilakukan para juri lomba ini perlu ada penjelasan. Karena jika mengacu pada jadwal pelaksanaan, maka tetulis disana dengan jelas bahwa penjurian dilakukan setelah selesai, namun peserta lomba masih melukis, ternyata juri dan panitia telah memilah dan memilih calon peserta yang menjadi juara.
Senada juga diutarakan ortu peserta lainnya mereka mengakui daerah anaknya berlomba belum dilalui juri atau panitia ternyata sudah selesai penilaian. Bahkan menurutnya, yang menjadi juara diantaranya masih belum selesai dalam mewarna.
“Kami bingung bagaimana cara menilai hasil lukisan anak dalam lomba ini? karena belum selesai sudah dinilai, padahal barisan sederet dengan anak saya belum dilihat dan dilalui untuk penilaian. Baru kali ini anak saya ikut lomba tapi pekerjaan dewan jurinya tidak becus dan karepe dewe, ” ucapnya dengan nada kesal, Jum’at, (23/10/2026).
Seharusnya momentum peringatan HUT Bangkalan ke-495 seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan, sportivitas, dan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya. Namun realita di lapangan berbalik 180 derajat, hilangnya sportifitas justru diduga dilakukan panitia penyelenggara kegiatan lomba warna warni seni dalam penilaian akhir lomba.
Sementara itu, Fendi Arisona selalu ketua pelaksana saat dihubungi lewat via japri WA menjelaskan bahwa acara lomba mewarnai beberapa waktu lalu atas permintaan Bupati Bangkalan dalam rangka memeriahkan HUT Bangkalan ke-495 melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bangkalan – Jatim.
“Lomba Mewarnai beberapa waktu lalu, atas permintaan Bupati Bangkalan untuk memeriahkan HUT Bangkalan ke-495 lewat Disdik Bangkalan, ” ujarnya
Dalam salinan WA Fendi menyebutkan “Untuk tingkat SD ada pendaftaran sebesar 100 ribu/peserta dan untuk tingkat SMP 130 ribu/peserta. Tingkat SD mendapatkan fasilitas paper bag, kanvas lukis ukuran 30 x 40, cat akrilik 1 set 12 warna, kuas lukis, sertifikat peserta ditandatangani kadisdik, piagam pemenang ditandatangani kepala dinas pendidikan, konsumsi. Sedangkan Tingkat SMP mendapatkan fasilitas paper bag, kanvas lukis ukuran 40 x 50, cat akrilik 1 set 12 warna, kuas lukis, sertifikat peserta ditandatangani kadisdik, piagam pemenang ditandatangani kepala dinas pendidikan, konsumsi. Untuk setiap pemenang mendapatkan trophy, dari juara 1 sampai juara 6 dan hadiah berupa barang untuk 3 tervaforit di semua kategori”.
Lebih lanjut Fendi menjelaskan sistem penilaian yang dilakukan untuk lomba ini setelah mulai ramai dipertanyakan. Untuk tingkat SMP karena peserta hanya 92 maka oleh juri diambil dengan metode pemilihan secara langsung ketika waktu selesai lomba baru penentuan pemenang.

