Mungkin, hanya laskar Hizbullah dan Sabilillah saja yang terlatih. Namun, para santri ini sangat tidak terlatih dalam perang. Santri yang tidak punya skill berperang, melawan tentara pemenang perang dunia kedua dan bisa menang.
“Kalau bukan karena ulama yang maju dengan pendekatan spiritual, itu kita tidak akan bisa menang. Tidak hanya mengandalkan fisik tapi juga wirid dan doa lainnya. Peran kolaboratif 3 kyai Jombang mempunyai peran sentral, dimana KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah,” katanya.
Peran ketiga kyai ini beragam, mulai dari peran eksternal, seperti keorganisasian NU, Diplomasi NU dan ketua barusan Mujahidin yang diatur oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah.
Sementara KH Bisri Syansuri lebih ke peran internal yakni seperti keulamaan NU, intelejen NU, ketua Markas Besar Oelama Dhawa Timur (MBODT) dan MPHS lebih ke Intelijen NU.
“Ketika resolusi jihad didekati dengan nalar agama, Mbah Hasyim memunculkan usaha bahwa sebenarnya orang NU zaman dulu itu bernegara dan beragam, dan beragam demi negara. Beragam, tidak hanya ritual saja, namun jika negara sedang terancam salah satunya imperialisme kita sebagai warga negara harus maju paling depan. Resolusi jihad ini spiritnya itu bernegara dan beragam serta beragama demi bernegara,” tukasnya.
