BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM : Kehadiran Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi NasDem Dapil Jawa Barat II, Rajiv Singh, dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah di Lapangan Voli Ciburuy RW 16, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (6/3/2026), justru menuai kritik tajam dari warga dan kalangan wartawan.
Alih-alih memberikan kesan sebagai wakil rakyat yang dekat dengan masyarakat, Rajiv dinilai tampil dengan sikap elitis, sombong, bahkan cenderung mengabaikan warga dan media yang hadir meliput kegiatan tersebut.
Sejumlah warga menilai sikap Rajiv tidak mencerminkan sosok pemimpin yang humanis dan membumi. Sebagai wakil rakyat, seorang anggota DPR seharusnya mampu membangun kedekatan dengan masyarakat, menunjukkan empati, serta berinteraksi secara terbuka dengan publik.
“Seharusnya wakil rakyat itu ramah dan mau berbaur dengan masyarakat. Tapi yang terlihat justru sebaliknya, terkesan angkuh dan menjaga jarak,” ujar Yanti salah seorang warga yang hadir di lokasi kegiatan.
Kritik juga datang dari kalangan wartawan yang meliput kegiatan tersebut. Rajiv disebut bersikap anti media dengan mengabaikan upaya wartawan yang hendak melakukan wawancara terkait program yang digelar.
Sikap tersebut memicu kekecewaan sejumlah jurnalis di Bandung Barat. Bahkan beberapa di antaranya menyatakan akan memboikot kegiatan Rajiv Singh di masa mendatang apabila pola komunikasi yang tertutup terhadap media terus berlanjut.
Selain sikap yang dinilai tidak ramah, gaya kedatangan Rajiv ke lokasi kegiatan juga menuai sorotan. Ia datang dengan pengawalan beberapa ajudan serta iring-iringan kendaraan termasuk mobil patwal. Penampilan yang dinilai mewah dan penuh pengamanan itu dianggap tidak mencerminkan kesederhanaan seorang wakil rakyat yang seharusnya dekat dengan masyarakat.
Kontras dengan itu, warga membandingkan sikap Rajiv dengan Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDI – Perjuangan dari Dapil yang sama, Deni Cagur, yang sebelumnya berkunjung ke Kampung Sudimampir, Desa Padalarang. Dalam kunjungannya, Deni datang tanpa pengawalan mencolok, mengenakan pakaian sederhana, serta menyapa warga dengan penuh keakraban.
“Beda sekali. Deni Cagur datang sederhana, langsung menyapa warga. Terasa dekat dengan masyarakat,” kata seorang warga.
Tak hanya soal sikap, program Gerakan Pangan Murah yang digelar juga menuai kekecewaan. Warga yang datang ke lokasi hanya mendapatkan satu voucher senilai Rp10 ribu yang dapat digunakan sebagai potongan harga saat membeli bahan pangan yang disediakan panitia.
Namun menurut warga, harga berbagai kebutuhan pokok seperti beras, telur, ayam, daging, sayuran hingga buah-buahan yang dijual di lokasi kegiatan tidak jauh berbeda dengan harga pasar.
“Cuma dapat voucher Rp10 ribu, sementara harga bahan pokok hampir sama dengan harga di pasar. Jadi tidak terasa murah,” ujar seorang warga lainnya.
Bagi masyarakat, kegiatan yang seharusnya membantu meringankan beban ekonomi justru terasa tidak memberikan manfaat signifikan. Program yang mengusung tema stabilisasi pasokan dan harga pangan itu dinilai belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
“Kalau seperti ini, seharusnya tidak usah diadakan. Harapannya kan pangan murah, tapi kenyataannya tidak jauh beda dengan harga pasar,” keluh warga.
Kekecewaan tampak dari raut wajah sejumlah warga yang datang dengan harapan mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau. Program yang digadang-gadang sebagai solusi bagi masyarakat justru menyisakan pertanyaan besar mengenai efektivitas pelaksanaannya di lapangan.

