Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BANDUNG

Wali Kota Bandung Farhan Dorong UMKM Jadi Motor Ekonomi

Wali Kota Bandung Farhan Dorong UMKM Jadi Motor Ekonomi

BANDUNG, KANALINDONESIA.COM : Muhammad Farhan menegaskan bahwa Kota Bandung kini semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 12 juta wisatawan berkunjung ke Kota Kembang.

Menurut Farhan, tingginya angka kunjungan wisata tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Perputaran uang meningkat dan berbagai sektor usaha ikut bergerak, mulai dari pariwisata, kuliner hingga perdagangan.

“Kota Bandung saat ini telah menjadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Pada tahun 2025 saja tercatat lebih dari 12 juta wisatawan berkunjung ke Kota Bandung,” ujar Farhan, Minggu (15/3/2026).

Ia menjelaskan, meningkatnya kunjungan wisatawan memang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menuntut pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan kota, baik dari sisi infrastruktur maupun pelayanan publik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Meski demikian, secara relatif kondisi ekonomi daerah masih belum sepenuhnya pulih dibandingkan sebelum pandemi.

Farhan mengingatkan, pandemi COVID-19 yang mulai melanda pada Maret 2020 memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor ekonomi di Kota Bandung. Hingga saat ini, beberapa sektor masih belum sepenuhnya bangkit.

Salah satunya adalah sektor transportasi, terutama setelah penutupan Bandara Husein Sastranegara yang sebelumnya menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi daerah. Selain itu, sektor industri pengolahan juga masih mencatat pertumbuhan yang relatif kecil.

Meski demikian, Farhan menilai pertumbuhan ekonomi tidak harus selalu bergantung pada industri besar. Usaha kecil dan menengah justru memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi kota.

“Industri pengolahan tidak harus selalu dalam skala besar. Usaha kecil di tingkat rumah tangga juga termasuk industri pengolahan, seperti produksi makanan, pakaian, sepatu, tahu hingga berbagai produk kerajinan,” katanya.

Pemerintah Kota Bandung, lanjut Farhan, akan terus mendorong berbagai sektor usaha produktif melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya produksi yang didukung pasar yang kuat, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya meningkat tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata.

Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan ekonomi. Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi hanya bertumpu pada perusahaan besar, keuntungan cenderung terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Sebaliknya, ketika pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh pelaku usaha kecil dan menengah, manfaatnya akan lebih luas dirasakan masyarakat.

Hal tersebut menjadi penting karena tingkat ketimpangan sosial di Kota Bandung masih tergolong tinggi. Berdasarkan perhitungan Gini Ratio dari Badan Pusat Statistik, angka ketimpangan di Kota Bandung saat ini berada di level 0,42. Angka tersebut memang menurun dari 0,44 pada tahun sebelumnya, namun masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 0,36.

“Artinya sebagian besar sumber daya ekonomi masih dikuasai oleh kelompok masyarakat yang relatif kecil. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” tutup Farhan. (Fey)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita