PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung produktivitas petani kopi di Desa Persiapan Sambiganen terus berkembang. Berawal dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Ponorogo tahun 2025, inovasi mesin pengupas kopi kini disempurnakan melalui Program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kemendiktisaintek 2026.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk keberlanjutan pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Teknologi yang sebelumnya dikembangkan melalui KKN tidak berhenti setelah program selesai, tetapi dievaluasi dan disempurnakan berdasarkan kebutuhan nyata petani di lapangan.
Pada tahun 2025, melalui KKN Tematik Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Ponorogo, telah dikembangkan mesin untuk membantu pengupasan kopi basah. Mesin generasi awal tersebut menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan petani terhadap proses pengupasan manual. Namun, berdasarkan evaluasi penggunaannya, mesin masih memiliki keterbatasan dan belum mampu mengupas kulit kopi secara sempurna.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan pada tahun berikutnya. Melalui Hibah PKM Kemendiktisaintek 2026, mesin tidak diganti dengan teknologi yang sepenuhnya baru, tetapi disempurnakan melalui proses redesain agar lebih efektif, aman, stabil, serta sesuai dengan kebutuhan proses pascapanen kopi di Sambiganen.
Program PKM ini diketuai oleh Adi Fajaryanto Cobantoro, S.Kom., M.Kom., dengan anggota Rizki Dwi Ardika, M.T. dan Dr. Elok Putri Nimasari, M.Pd. Pelaksanaan kegiatan melibatkan Pemerintah Desa Persiapan Sambiganen, Kelompok Tani Margomulyo, kelompok tani di Dusun Sambi, serta Kelompok Tani Wanita sebagai bagian dari masyarakat penerima manfaat.

Tahapan program dimulai pada Juli 2026 melalui sosialisasi dan observasi lapangan. Tim mendatangi Sambiganen untuk melihat secara langsung kondisi mesin yang menjadi objek redesain, melakukan inspeksi teknis, serta berdialog dengan masyarakat mengenai kelemahan mesin sebelumnya dan kebutuhan kelompok tani.
Tim juga melakukan pengukuran kondisi awal atau baseline, meliputi waktu kerja operator, kapasitas pengupasan, biaya operasional, mutu hasil kupasan, serta pendapatan yang diperoleh melalui aktivitas pengupasan maupun penjualan hasil kopi. Data tersebut menjadi pembanding untuk menilai perubahan kinerja setelah teknologi hasil redesain diterapkan.
Redesain diarahkan pada sejumlah aspek teknis, termasuk penyempurnaan pengaturan celah dan tekanan mesin agar pengupasan lebih optimal dan risiko kerusakan biji dapat ditekan. Alur masuk dan keluar bahan turut diperbaiki sehingga proses produksi menjadi lebih stabil. Aspek keselamatan juga diperkuat melalui perlindungan pada bagian mesin yang berputar serta desain yang memudahkan proses pembersihan dan perawatan.
Setelah disempurnakan, mesin memiliki kapasitas produksi hingga sekitar satu ton per jam untuk proses pengupasan kulit kopi basah. Kapasitas tersebut diharapkan dapat memberikan perubahan signifikan terhadap efisiensi waktu kerja kelompok tani dibandingkan pengolahan secara manual maupun penggunaan mesin generasi sebelumnya.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada 11 Agustus 2026, ketika tim secara resmi menyerahkan mesin hasil redesain kepada kelompok tani di Dusun Sambi. Penyerahan tidak hanya berfokus pada pemberian alat, tetapi juga dilengkapi dengan pelatihan pengoperasian mesin, pengaturan atau setting, prosedur keselamatan, pembersihan, maintenance, serta troubleshooting ringan.
Program juga diperkuat melalui penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengoperasian, perawatan, dan keselamatan mesin. Dengan SOP tersebut, petani diharapkan tidak hanya mampu menggunakan mesin, tetapi juga menjaga konsistensi kinerja dan memperpanjang usia pakainya.

